Kita membutuhkan es yang ada di kutub selatan. Serius. Memang
tidak secara langsung, tapi kalau mau ditelusuri pasti akan ada hubungannya. Es
itu harus tetap ada, tidak boleh mencair, karena ketika es di kutub itu mencair
pasti tidak akan lama banyak pulau yang tenggelam. Pulau Jawa mungkin salah
satunya, lihat saja bentuknya yang rapuh, kurus dan berbatasan langsung dengan
Samudera Hindia.
Begitu pula dengan burung. Secara langsung ataupun tidak, makhluk
Tuhan yang diciptakan untuk mengembara di angkasa itu juga membutuhkan air.
Lebih tepatnya air bersih. Tidak sekedar untuk minum, tapi juga untuk makan.
Siapa bilang cuma binatang air yang mencari makan di air?
Kesimpulan itu kami dapatkan dari hasil pengamatan kami, tim Jogja
Malang Melintang yang terdiri dari Husna, Asti dan Zulfikar, pada hari Sabtu (14/12/2013) di wilayah Tahura Raden Soerjo dalam rangka kompetisi birdwatching yang diselenggarakan oleh Dishut Provinsi Jatim.
Lebih tepatnya lokasi pengamatan kami terletak di sebelah barat Gua Jepang yang juga tidak jauh dari tempat
pemandian air panas. Jalan setapak yang kami lalui bukanlah jalur utama bagi
pengunjung yang terkadang suka berjalan-jalan mencari suasana alam. Semak-semak
merintangi langkah kami. Pepohonan besar yang berbalut lumut tampak kokoh di
kanan kiri kami, lengkap dengan sulur-sulur liana dan anggrek liar yang seakan
menjadi aksesoris pemanis hutan basah itu. Dengan tebing tanah di sisi
kiri dan jurang di sisi kanan, kami terus berjalan sambil mengamati sekeliling,
ditemani gemericik air sungai yang berada di dasar jurang tersebut.
Kami memilih jalur ini karena kami penasaran, burung jenis apa
sajakah kiranya yang beraktivitas di sekitar aliran sungai. Awalnya kami sempat
mengira bahwa sungai tersebut memiliki volume air yang cukup deras dan hangat,
namu kami tertipu. Saat kami berhasl menemukan cara untuk turun ke sungai,
ternyata faktanya cukup berbeda: sungai itu dipenuhi oleh pipa-pipa yang
menyalurkan air untuk irigasi pertanian warga, dan aliran yag tersisa kecil
sekali untuk ukuran air sungai di musim penghujan.
Sepanjang perjalanan, langit sangat muram dan matahari seakan
sedang enggan berbagi sinarnya, begitu pula dengan burung-burung hutan yang
mendiami area seluas lebih dari 27 hektar ini. Gerombolan Sepah Gunung berbaik
hati menampakkan kecantikan semburat merah-biru mereka pada kami, sebelum
bertengger di pucuk-pucuk pohon tertinggi yang ada disana. Burung jenis ini memang
termasuk yang paling mudah ditemui dan dikenali, sedikit saja berbeda dari
kerabatnya, Sepah Hutan yang memiliki betina berwarna kuning. Belum jauh kami
melangkah, seekor Kepudang-sungu Gunung menyapa kami sebentar sebelum menjauh.
Demikian juga dengan seekor Srigunting Kelabu yang menyempatkan diri melintasi
kami. Sebagai tambahan, kami pun cukup beruntung dapat berjumpa dengan si imut
Berencet Kerdil yang berkelebat di semak-semak.
Namun, dari semua burung yang kami temui hari itu, ternyata justru
yang tidak kami lihat dengan jelaslah yang menarik perhatian. Siluet Cekakak
Sungai melintas terburu-buru melalui atas kepala kami, disertai dengan suaranya
yang khas “Cekakakakaaaakk..” memecah kekhusyukan hutan. Burung yang tubuhnya
didominasi warna bru cerah dan putih ini berasal dari famili Alcedinidae.
Bersama dengan dua kerabatnya, Cekakak Batu dan Cekakak Jawa, ia dapat
ditemukan di dalam kawasan tahura yang memiliki 147 mata air alami ini.
![]() |
| sketsa burung Cekakak Sungai |
Burung dari famili ini hampir pasti dapat ditemukan di sekitar sumber
atau aliran air yang masih banyak mengandung ikan dan hewan-hewan air kecil
lainnya seperti udang atau vertebrata kecil. Dari jauh pun mereka dapat dengan
mudah dikenali, pertama dari bentuk paruhnya yang panjang dan kokoh. Paruhnya
memang didesain untuk menyambar, menjepit, dan membentur-bentukan mangsanya
hingga mati agar lebih mudah dimakan. Ekornya yang relatif pendek menjadi alat
penyeimbang yang sangat canggih, akan terlihat saat jenis-jenis burung bersuara
lantang memekakkan telinga ini beraksi menyambar mangsanya dalam sekejap mata.
Karena menu utama mereka adalah binatang air, maka sudah jelas bahwa kehidupan
mreka sangat bergantung pada keberadaan sumber air yang bersih, yang secara
otomatis menjamin ketersediaan ikan, serangga, dan hewan-hewan kecil lainnya.
Masih belum selesai kami bernalar tentang Cekakak Sungai dan
aliran air, suara burung lain mengusik konsentrasi kami. Meninting! Meski hanya
mendengar suaranya, tapi rasanya menyenangkan sekali mengetahui bahwa kehidupan
anggota famili Turdidae ini masih terjamin di Tahura R. Soerjo. Suaranya
terdengar cukup lantang, walau pada akhirnya kami tidak berhasil bertatap muka
dengan sang pemilik suara meski kami sudah jauh menyusuri setapak sepanjang
tepian sungai berbatu. Karena itu pula kami tidak dapat memastikan jenis
Meninting apakah dia, karena ada 2 jenis Meninting, yaitu Meninting Besar dan Meninting Kecil, yang tercatat dalam daftar burung penghuni Tahura R. Soerjo yang disusun
oleh Seriwang.
Keberadaan Meninting menandakan bahwa ketersediaan sumber dan
aliran air di kawasan sekitar pemandian air panas Cangar masih terjaga dengan
baik. Dari mana kami menarik kesimpulan itu? Tidak sulit menelusurnya, alasan
pertama adalah karena burung-burung famili Turdidae mencari pakan dekat, atau
bahkan di permukaan tanah. Menu favorit mereka adalah cacing tanah, seperti
yang pernah terekam oleh kamera para fotografer satwa liar. Cacing tanah sangat
menyukai tanah yang lembab dan sedikit berair, maka tak heran ketika kita dapat
dengan mudah menjumpai burung-burung dari famili yang dikenal bersuara merdu
ini berloncatan dengan licah di sekitar aliran sungai. Selain Meninting,
kawasan tahura yang memiliki ketinggian sekitar 1500 mdpl ini juga menjadi
habitat burung-burung Turdidae lain seperti Anis Sisik, Anis Hutan, Ciung-batu
Jawa, Ciung-batu Siul, dan Cingcoang Coklat.
Kembali lagi ke pendapat yang kami sebutkan di awal tadi: Siapa
bilang cuma binatang air yang mencari makan di air?
Dari pengamatan serta perenungan kami akan keberadaan burung
Cekakak Sungai dan Meninting tadi, kami menjadi yakin bahwa dunia ini memiliki
rancangan yang tidak tercela dan serba adil. Bagaimana tidak, bahkan makhluk
penjelajah angkasa pun mencari sumber kehidupannya di permukaan tanah, di bawah
permukaan tanah, bahkan di bawah permukaan air. Bahkan di sekitar sungai yang
kami lalui, yang alirannya tak lagi deras karena telah terbelokkan oleh hausnya
perkebunan masyarakat, masih terdapat burung-burung yang persediaan pakannya
sangat bergantung pada air. Alangkah ramainya wilayah ini dengan burung-burung
Alcedinidae dan Turdidae lainnya andai sungai-sungai disini terjaga debit dan
kualitasnya.
Tak dapat disanggah lagi pentingnya sumber dan aliran air bagi
semua makhluk hidup, baik secara langsung maupun tidak. Cacing, ikan, dan
burung tentu tidak dapat menjaga kelestarian air untuk kehidupan mereka
sendiri. Tapi kita, manusia-lah yang wajib memastikan itu untuk mereka, dan
untuk kehidupan kita sendiri.

Jawaraaa iki :-D
ReplyDeleteGesngek.. gesngek..
Delete