Lomba birdwatching!
Rasanya waktu itu utopia banget, setelah bertahun-tahun kepingiiin
banget ikutan event beginian, akhirnya kesampean juga. Dari tahun-tahun kemaren
cuma dapet ajakan dan cerita seru dari teman-teman yang ikut lomba dimana-mana
(ada di Baluran, Merapi, Cangar, dll) akhirnya bias ngerasain sendiri. Soalnya
lombanya deket, di Tahura Raden Soerjo (Cangar), dan Cuma 3 hari jadi nggak
perlu bolos kerja, hihihiii..
Singkat cerita aku se-tim sama Husna (MEL-UM) dan mas Zul (Bionic-UNY). Karena nggak tau mau
ngewakilin siapa –bertiga nggak ada yang sama institusinya- akhirnya tim nama
tim Jogja Malang Melintang saja lah yang dipakai. Banyak hal menarik yang
terjadi sebelum, selama, dan sesudah lomba. Menarik secara positif, maupun negatif.
Eh, kalo negatif berarti “ngeganjel” ya istilahnya? Sudahlah..
Yang jelas lomba ini aneh sedari awal, hahahaaa.. Mana ada lomba birdwatching
diadain pas musim hujan? Saking aja kepingin banget, kalo nggak ya males lah.
Nggak bisa nggak setuju deh sama teman yang bilang “Ah itu acaran ngabisin
anggaran aja, biasa lah akhir tahun..” Tipikal birokrat. Akhirnya kejadian,
pengamatan yang sedianya bias dilakukan dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang,
harus berhenti sebelum jam 10 pagi karena hujan mengguyur dan tak berhenti
sampai keesokan pagi. Jadi yang bikin artikel pada bingung, belum sempat ketemu
macem-macem spesies, terus apa yang mau ditulis? Putar otak deh, hahahaaa..
Sekitar seminggu sebelum hari H, aku nge-share info di kantor tentang
temuan jaring burung oleh teman-teman pengamat burung dan fotografer wildlife, yang
setelah diusut berujung pada keterangan petugas bahwa pemasangan jaring itu
adalah perintah dari “atasan”. Plus adanya kandang gede di lokasi wisata
pemandian air panas Cangar yang katanya siiiih rencananya mau diisi
burung-burung dan beberapa satwa lain yang menarik. Wooo, mengerikan.. Ada
begituan di tahura, nggak pro-konservasi banget! Lebih-lebih lagi itu nggak
edukatif! Akhirnya bergeraklah tim ProFauna, dibantu beberapa teman dari
Seriwang, untuk menggali lebih lanjut tentang malpraktik yang terjadi itu. Tapi
yaa, gitu deh petugas terkaitnya nggak mau ngaku dan malah saling lempar
tanggung jawab.
Seperti yang sudah aku duga, kasus ini digarap lebih serius oleh
ProFauna dengan cara kampanye di depan kantor UPT Tahura R. Soerjo di daerah
Arjosari, Malang. Demo yang berisik itu (iya lah 10 orang supporter tiup-tiup
peluit selama 1 jam) hanya berhasil membawa ProFauna diterima untuk diskusi
dengan kepala UPT, tapi itu juga nggak nyelesain masalah sih. Yang penting
dicoba kan? Mungkin isu ini masih akan bergulir di tahun 2014 nanti..
Sebetulnya ada 1 hal yang selama ini menggelitik (maksudnya “mengganggu
dalam skala kecil, tapi terus-menerus”) kepedulianku dan teman-teman ProFauna
pada pelestarian alam. Kami tuh demo di depan kantor UPT disaksikan dan
didengar langsung oleh beberapa lusin pengamat burung calon peserta lomba dari
berbagai kota. Sengaja sih, kami memang ingin dilihat siapa tau bias menginspirasi
dan menggugah para pengamat burung untuk ikut “bergerak” melindungi satwa liar.
Kenyataannya? Mereka cuek-cuek aja. Di jejaring sosial pun nggak jadi besar
isunya. Selama lomba, hampir nggak ada yang ngungkit kampanye ProFauna.
Kaget? Nggak. Kecewa? Iya. Dari awal memang aku nyadar sih, konflik
ProFauna-Dishut-UPT Tahura R. Soerjo ini berpotensi merenggangkan hubungan
antara pengelola kawasan dengan teman-teman Seriwang yang sudah terjalin sekian
lama. Tapi itu resikonya, dan resiko itu layak banget diambil. Partisipasi
masyarakat dalam penegakan hokum itu diatur undang-undang loh. Kalo kemudian
punya ilmu, dan tau banget betapa berharganya ekosistem di dalam tahura itu, ya
harusnya mau ikut melindungi lah! Kalo cuma mau manfaatin ekosistem tahura buat
cari nilai, duit, foto, data, dll tanpa mau ngejaga dan mau tau apa yang
terjadi selanjutnya, ya apa bedanya dengan main sama pelacur? Whooops, terlalu
vulgar ya? Hahahaaa.. Intinya kayak “beli putus” aja.
Tapi betul toh? Habis muji-muji kekayaan dan kecantikan suatu kawasan
(nggak cuma di Tahura R. Soerjo, dimana aja lah..), trus kawasan itu terancam
marabahaya, dan mereka-mereka yang ngakunya punya ilmu terkait sama sekali
nggak berbuat apa-apa. Hmmm, dimana tanggung jawab kalian sodara-sodara?? Nggak
malu kah, sama teman-teman yang rela bercapek-capek membela keterjagaan
kawasan, yang ternyata nggak punya background ilmu terkait? Mungkin sudah
saatnya orang-orang yang punya ilmu setinggi langit belajar untuk membumikan
diri.
Dari pengalaman selama beberapa tahun ini, semakin kuat keyakinan bahwa
“Kelamaan kalo nunggu orang-orang yang punya ilmu! Udah kita yang ikhlas dan
mau aja lah yang berjuang buat alam negara ini.” Serius ini. Bayangin aja, kalo
yang berilmu pada sibuk “menjarah” isi kawasan demi nilai kuliah, prestise di
komunitas, dan uang tanpa mau peduli soal keberlangsungan kawasan itu, mau
mempelajari apa biolog-biolog masa depan?
Itu kecewa tingkat nasional no.1, kecewa no.2 aku nggak tau mau
ditujukan ke siapa. Karena satu dan lain hal, akhirnya lebih dari 200 peserta terkumoul
tumplek-bleg di pendopo. Trus makan kami 3x sehari disediain sama panitia dalam
wadah-wadah Styrofoam. Sayang banget sebetulnya, karena makanannya toh nggak
ada yang berkuah. Mending pake kertas bungkus aja harusnya, karena selain
(seperti yang KITA SEMUA tau) Styrofoam butuh waktu lebih dari 1 millenium
untuk terurai, sampahnya ngabisin tempat banget! Apalagi nggak ada tempat sampah
yang tersedia di seantero tahura. Setiap kali selesai jam makan, bertumpuklah
kotak-kotak Styrofoam di penjuru pendopo, dan celakanya lagi nggak ada orang
yang inisiatif ngumpulin semua sampah jadi 1 untuk diangkut petugas kebersihan.
Karena risih liat sampah dimana-mana dan
nggak tega liat si Kemal bebersih sendirian, aku sempatin bantu dia ngumpulin
dan ngemas sampah plus sedikit membersihkan pendopo yang becek karena hujan. Heran
deh sama yang ngaku-ngaku belajar ilmu alam tapi nggak risih liat sampah
berceceran. Minimal dikumpulin di satu kantong atau spot kek. No mention loh
ini ya, soalnya mau mention juga kelewat banyak :p
Belum selesai, aku masih mau ngeluarin unek-unek. Kecewa no.3, tingkat
regional saja. Selama di Cangar, aku berusaha memaksimalkan kesempatan dan
perolehan pengalaman. Diajakin birdwatching malam cari owl, ayooo.. Diajak “herping”
atau pengamatan herpetofauna (reptil dan amfibi), bolehhh.. Cari anggrek liar
yang cantik-cantik yam au aja, meskipun nggak jadi.. Anehnya, banyak teman yang
sepertinya nggak tertarik untuk melakukan aktivitas selain pengamatan selama
lomba dan rebutan doorprize dan kumpul-kumpul kosongan. Bukan kecewa sih, tapi
sebagai birdwatcher-watcher, sulit untuk tidak menyayangkan fenomena ini. Mungkin
karena mereka terlanjut terbiasa dan semua itu “udah pernah”, akhirnya
kehilangan excitement dan kehabisan rasa ingin tahu. Memang event lomba juga
sekaligus menjadi ajang gathering dengan kawan-kawan yang sehati dengan kita,
tapi definisi “gathering” tidak seharusnya sesempit “duduk-duduk, ngopi,
ngobrol sana-sini” kan? Jalan-jalan ngamatin apapun dengan teman-teman dari
kota lain juga kan termasuk gathering, apa salahnya nambah teman sekaligus bertukar
ilmu yang bermanfaat?
Beruntung sekali bisa ketemu herping bareng teman-teman dari Jakarta,
meskipun nggak lama dan nggak nemu apa-apa, minimal jadi tau “oooh, gini toh
herping itu..”. Juga teman-teman dari Jogja dan Semarang yang beberapa sangat
tertarik pada anggrek liar (yang ternyata ada banyak di sekitar hutan, cuma aku
yang biasanya nggak memperhatikan sekarang jadi lebih waspada). Para juri –Pak Bas,
Mas Imam, Mas Swiss- juga selain menginspirasi ternyata juga menyenangkan diajak
ngobrol tentang banyak hal lain.
Soal artikel, memang artikel yang ditulis pemenangnya bagus, artikel
deskriptif tentang Munguk Loreng. Detail, mendalam, tapi mudah dicerna oleh
otak awam seperti punyaku. Tapi mungkin akan lebih tinggi value-nya kalau ada
pesan yang disampaikan melalui tulisan itu, misalnya tentang perlindungan satwa
tersebut, konservasi kawasan, atau pelestarian sumber daya alam. Terus terang
dunia konservasi butuh lebih banyak
biolog yang mau turun ke jalan, melihat kondisi di lapangan, dan menerapkan
ilmunya secara konkrit. Sementara berharap dan berdoa saja, semoga setidaknya ada
beberapa orang di antara semua yang hadir di lomba ini yang nantinya sadar
bahwa alam ini ada tidak sekedar untuk dipelajari, tapi juga untuk dijaga, dibela,
dan dipertahankan. Oya, reka ulang artikel dari tim JMM bisa dibaca di blog post sebelum ini.
Sekian saja lah unek-unek malam ini. Aku nggak kapok ikut lomba, malah
kepingin lagi kalau nanti ada event serupa. Semoga sang waktu mau sejenak
berhenti memberontak dari sepuluh jariku yang terus berusaha mengatur rimanya.
Para biolog, aku tunggu peran aktif & nyata kalian di waktu
mendatang. Jangan repot-repot mempelajari alam kalau tidak bisa menggerakkan
diri sendiri untuk melestarikan alam, punya malu dong jangan mau kalah sama sarjana sastra!
Hahahaaa..
No comments:
Post a Comment