Thursday, 26 December 2013

Biolog harusnya malu..


Lomba birdwatching!

Rasanya waktu itu utopia banget, setelah bertahun-tahun kepingiiin banget ikutan event beginian, akhirnya kesampean juga. Dari tahun-tahun kemaren cuma dapet ajakan dan cerita seru dari teman-teman yang ikut lomba dimana-mana (ada di Baluran, Merapi, Cangar, dll) akhirnya bias ngerasain sendiri. Soalnya lombanya deket, di Tahura Raden Soerjo (Cangar), dan Cuma 3 hari jadi nggak perlu bolos kerja, hihihiii..

Singkat cerita aku se-tim sama Husna (MEL-UM) dan  mas Zul (Bionic-UNY). Karena nggak tau mau ngewakilin siapa –bertiga nggak ada yang sama institusinya- akhirnya tim nama tim Jogja Malang Melintang saja lah yang dipakai. Banyak hal menarik yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah lomba. Menarik secara positif, maupun negatif. Eh, kalo negatif berarti “ngeganjel” ya istilahnya? Sudahlah..

Yang jelas lomba ini aneh sedari awal, hahahaaa.. Mana ada lomba birdwatching diadain pas musim hujan? Saking aja kepingin banget, kalo nggak ya males lah. Nggak bisa nggak setuju deh sama teman yang bilang “Ah itu acaran ngabisin anggaran aja, biasa lah akhir tahun..” Tipikal birokrat. Akhirnya kejadian, pengamatan yang sedianya bias dilakukan dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang, harus berhenti sebelum jam 10 pagi karena hujan mengguyur dan tak berhenti sampai keesokan pagi. Jadi yang bikin artikel pada bingung, belum sempat ketemu macem-macem spesies, terus apa yang mau ditulis? Putar otak deh, hahahaaa..

Sekitar seminggu sebelum hari H, aku nge-share info di kantor tentang temuan jaring burung oleh teman-teman pengamat burung dan fotografer wildlife, yang setelah diusut berujung pada keterangan petugas bahwa pemasangan jaring itu adalah perintah dari “atasan”. Plus adanya kandang gede di lokasi wisata pemandian air panas Cangar yang katanya siiiih rencananya mau diisi burung-burung dan beberapa satwa lain yang menarik. Wooo, mengerikan.. Ada begituan di tahura, nggak pro-konservasi banget! Lebih-lebih lagi itu nggak edukatif! Akhirnya bergeraklah tim ProFauna, dibantu beberapa teman dari Seriwang, untuk menggali lebih lanjut tentang malpraktik yang terjadi itu. Tapi yaa, gitu deh petugas terkaitnya nggak mau ngaku dan malah saling lempar tanggung jawab.

Seperti yang sudah aku duga, kasus ini digarap lebih serius oleh ProFauna dengan cara kampanye di depan kantor UPT Tahura R. Soerjo di daerah Arjosari, Malang. Demo yang berisik itu (iya lah 10 orang supporter tiup-tiup peluit selama 1 jam) hanya berhasil membawa ProFauna diterima untuk diskusi dengan kepala UPT, tapi itu juga nggak nyelesain masalah sih. Yang penting dicoba kan? Mungkin isu ini masih akan bergulir di tahun 2014 nanti..

Sebetulnya ada 1 hal yang selama ini menggelitik (maksudnya “mengganggu dalam skala kecil, tapi terus-menerus”) kepedulianku dan teman-teman ProFauna pada pelestarian alam. Kami tuh demo di depan kantor UPT disaksikan dan didengar langsung oleh beberapa lusin pengamat burung calon peserta lomba dari berbagai kota. Sengaja sih, kami memang ingin dilihat siapa tau bias menginspirasi dan menggugah para pengamat burung untuk ikut “bergerak” melindungi satwa liar. Kenyataannya? Mereka cuek-cuek aja. Di jejaring sosial pun nggak jadi besar isunya. Selama lomba, hampir nggak ada yang ngungkit kampanye ProFauna.

Kaget? Nggak. Kecewa? Iya. Dari awal memang aku nyadar sih, konflik ProFauna-Dishut-UPT Tahura R. Soerjo ini berpotensi merenggangkan hubungan antara pengelola kawasan dengan teman-teman Seriwang yang sudah terjalin sekian lama. Tapi itu resikonya, dan resiko itu layak banget diambil. Partisipasi masyarakat dalam penegakan hokum itu diatur undang-undang loh. Kalo kemudian punya ilmu, dan tau banget betapa berharganya ekosistem di dalam tahura itu, ya harusnya mau ikut melindungi lah! Kalo cuma mau manfaatin ekosistem tahura buat cari nilai, duit, foto, data, dll tanpa mau ngejaga dan mau tau apa yang terjadi selanjutnya, ya apa bedanya dengan main sama pelacur? Whooops, terlalu vulgar ya? Hahahaaa.. Intinya kayak “beli putus” aja.

Tapi betul toh? Habis muji-muji kekayaan dan kecantikan suatu kawasan (nggak cuma di Tahura R. Soerjo, dimana aja lah..), trus kawasan itu terancam marabahaya, dan mereka-mereka yang ngakunya punya ilmu terkait sama sekali nggak berbuat apa-apa. Hmmm, dimana tanggung jawab kalian sodara-sodara?? Nggak malu kah, sama teman-teman yang rela bercapek-capek membela keterjagaan kawasan, yang ternyata nggak punya background ilmu terkait? Mungkin sudah saatnya orang-orang yang punya ilmu setinggi langit belajar untuk membumikan diri.

Dari pengalaman selama beberapa tahun ini, semakin kuat keyakinan bahwa “Kelamaan kalo nunggu orang-orang yang punya ilmu! Udah kita yang ikhlas dan mau aja lah yang berjuang buat alam negara ini.” Serius ini. Bayangin aja, kalo yang berilmu pada sibuk “menjarah” isi kawasan demi nilai kuliah, prestise di komunitas, dan uang tanpa mau peduli soal keberlangsungan kawasan itu, mau mempelajari apa biolog-biolog masa depan?

Itu kecewa tingkat nasional no.1, kecewa no.2 aku nggak tau mau ditujukan ke siapa. Karena satu dan lain hal, akhirnya lebih dari 200 peserta terkumoul tumplek-bleg di pendopo. Trus makan kami 3x sehari disediain sama panitia dalam wadah-wadah Styrofoam. Sayang banget sebetulnya, karena makanannya toh nggak ada yang berkuah. Mending pake kertas bungkus aja harusnya, karena selain (seperti yang KITA SEMUA tau) Styrofoam butuh waktu lebih dari 1 millenium untuk terurai, sampahnya ngabisin tempat banget! Apalagi nggak ada tempat sampah yang tersedia di seantero tahura. Setiap kali selesai jam makan, bertumpuklah kotak-kotak Styrofoam di penjuru pendopo, dan celakanya lagi nggak ada orang yang inisiatif ngumpulin semua sampah jadi 1 untuk diangkut petugas kebersihan. Karena risih  liat sampah dimana-mana dan nggak tega liat si Kemal bebersih sendirian, aku sempatin bantu dia ngumpulin dan ngemas sampah plus sedikit membersihkan pendopo yang becek karena hujan. Heran deh sama yang ngaku-ngaku belajar ilmu alam tapi nggak risih liat sampah berceceran. Minimal dikumpulin di satu kantong atau spot kek. No mention loh ini ya, soalnya mau mention juga kelewat banyak :p

Belum selesai, aku masih mau ngeluarin unek-unek. Kecewa no.3, tingkat regional saja. Selama di Cangar, aku berusaha memaksimalkan kesempatan dan perolehan pengalaman. Diajakin birdwatching malam cari owl, ayooo.. Diajak “herping” atau pengamatan herpetofauna (reptil dan amfibi), bolehhh.. Cari anggrek liar yang cantik-cantik yam au aja, meskipun nggak jadi.. Anehnya, banyak teman yang sepertinya nggak tertarik untuk melakukan aktivitas selain pengamatan selama lomba dan rebutan doorprize dan kumpul-kumpul kosongan. Bukan kecewa sih, tapi sebagai birdwatcher-watcher, sulit untuk tidak menyayangkan fenomena ini. Mungkin karena mereka terlanjut terbiasa dan semua itu “udah pernah”, akhirnya kehilangan excitement dan kehabisan rasa ingin tahu. Memang event lomba juga sekaligus menjadi ajang gathering dengan kawan-kawan yang sehati dengan kita, tapi definisi “gathering” tidak seharusnya sesempit “duduk-duduk, ngopi, ngobrol sana-sini” kan? Jalan-jalan ngamatin apapun dengan teman-teman dari kota lain juga kan termasuk gathering, apa salahnya nambah teman sekaligus bertukar ilmu yang bermanfaat?

Beruntung sekali bisa ketemu herping bareng teman-teman dari Jakarta, meskipun nggak lama dan nggak nemu apa-apa, minimal jadi tau “oooh, gini toh herping itu..”. Juga teman-teman dari Jogja dan Semarang yang beberapa sangat tertarik pada anggrek liar (yang ternyata ada banyak di sekitar hutan, cuma aku yang biasanya nggak memperhatikan sekarang jadi lebih waspada). Para juri –Pak Bas, Mas Imam, Mas Swiss- juga selain menginspirasi ternyata juga menyenangkan diajak ngobrol tentang banyak hal lain.

Soal artikel, memang artikel yang ditulis pemenangnya bagus, artikel deskriptif tentang Munguk Loreng. Detail, mendalam, tapi mudah dicerna oleh otak awam seperti punyaku. Tapi mungkin akan lebih tinggi value-nya kalau ada pesan yang disampaikan melalui tulisan itu, misalnya tentang perlindungan satwa tersebut, konservasi kawasan, atau pelestarian sumber daya alam. Terus terang dunia konservasi  butuh lebih banyak biolog yang mau turun ke jalan, melihat kondisi di lapangan, dan menerapkan ilmunya secara konkrit. Sementara berharap dan berdoa saja, semoga setidaknya ada beberapa orang di antara semua yang hadir di lomba ini yang nantinya sadar bahwa alam ini ada tidak sekedar untuk dipelajari, tapi juga untuk dijaga, dibela, dan dipertahankan. Oya, reka ulang artikel dari tim JMM bisa dibaca di blog post sebelum ini.

Sekian saja lah unek-unek malam ini. Aku nggak kapok ikut lomba, malah kepingin lagi kalau nanti ada event serupa. Semoga sang waktu mau sejenak berhenti memberontak dari sepuluh jariku yang terus berusaha mengatur rimanya. 

Para biolog, aku tunggu peran aktif & nyata kalian di waktu mendatang. Jangan repot-repot mempelajari alam kalau tidak bisa menggerakkan diri sendiri untuk melestarikan alam, punya malu dong  jangan mau kalah sama sarjana sastra! Hahahaaa..

No comments:

Post a Comment