Friday, 25 November 2016

Wedding Prep: Multitasking Skill on Trial

Hi guys!

Alhamdulillah, setelah sekitar 3 tahun lebih berteman akhirnya saya dan mas Zul menikah (yes, I’m writing this while grinning ear-to-ear). First thing first, kami berdua berterima kasih banyak kepada semua yang telah berada di keseharian kami sejak awal kami berkenalan sampai saat kami menjadi pasangan yang sah. Kami bersyukur dikelilingi orang2 baik, banyak sekali doa terhantar, dan tak lupa nasihat serta wejangan dari kawan2 yang sudah lebih dulu memulai perjalanan. Semoga pernikahan kami barokah, baik bagi kami, keluarga, dan kawan2 semua. Aamiin..

Emang sih, pernikahan kami agak2 mengandung ‘gerilya’ karena baik perencanaan dan persiapan hampir semua tertangani oleh kami sendiri dan baru dimulai sekitar 2 bulan sebelum hari H. Banyak orang2 dekat kami yang menawarkan bantuan, tapi kami merasa masih bisa handle sendiri. Lebih ke alasan praktis aja gitu. Tentang proses lamaran yang minimalis tahun 2015 kemarin pun ga banyak yang tahu, karena ga sampe 10 orang yang hadir. Sederhana saja, di rumah dan hanya makan waktu sekitar 2 jam. Pun begitu dengan acara ‘sowan balik’ ke Jogja, yang to-the-point asal maksud sudah tersampaikan.

Bagi kawan2 & keluarga yang sudah menawarkan diri utk ikut terlibat, sungguh saya bersyukur atas semua itu. Tapi (ya mungkin udah dari sononya) saya lebih nyaman mengerjakan banyak hal sendiri. Entah itu namanya trust issue, overly-introverted, efek lingkungan kerja, atau apalah..tapi saya lebih tenang jika semua langsung saya sendiri yang kerjakan sehingga tau sendiri setiap perkembangannya hehehe..

Yang pertama dikerjakan tentunya hal-hal administratif. Detailnya membosankan, tapi intinya saya kemana-mana sendiri dan paling banter ditemani bapak sebagai wali jika dibutuhkan kehadirannya. Simple as that, karena berkas2 mas Zul sudah kelar dari jauh2 hari. FYI dia pergi ke Kalbar selama hampir 2 bulan waktu itu dan baru pulang ke Jawa 2 minggu sebelum hari H.


Nah, awalnya desain undangan aku pasrahin ke mas Zul karena dia lebih jago ngedesain grafis. Tapi karena di pergi ke Kalbar itu akhirnya saya rampungkan sampai cetak dengan mengais sisa2 ilmu desain yg sudah membatu. Kami punya konsep pokoknya harus mengandung usur birdwatching, kopi, dan buku. Kenapa? Ehm.. karena.. Kebetulan tiga hal itu termasuk hal2 yang kami berdua sama2 menikmati. Selain itu, prinsip undangannya adalah “ntar juga dibuang, jadi ga boleh mahal” dan “Ga usah ditulis gelarnya.”. It’s legit. Banyak orang nikah keluar budget gede di undangan: karton tebel, renda2, wangi, dll. Toh undangan itu intinya ngasih tau acara, tempat, dan waktu. Itu doang kan esensinya. Soal gelar akademik, menurut kami ga penting dicantumin karena acara kami ini ngundang orang dr berbagai latar belakang. Mau S-berapapun sama aja. Ga ada menu VIP, ga ada parkir valet, suvenirnya juga sama semua.

Soal hunting lokasi, itu saya lakukan di sela-sela jam kerja. Dan saya beruntung menemukan lokasi yang cocok tanpa makan banyak waktu. RM Ringin Asri jadi pilihan, karena: 1) Lokasi dekat rumah, 2) Free venue dengan minimum undangan 200 pax, 3) Parkiran luas, dan 4) Jam pemakaian longgar.



Alasan no.1 penting hanya supaya ga rempong transportnya. Alasan no.2 adalah karena saya sudah ga punya cukup energi untuk mikir venue dan catering sebagai item yang berbeda; kalo bisa 2in1, why not?. Alasan no.3 jelas yaa, apalagi saya paling males kalo ada orang punya hajat pake ganggu pengguna jalan. Alasan no.4 adalah karena di banyak venue lain pemakaian lokasi dibatasi hanya 2-4 jam dan akan di-charge lebih kalo overtime. Di Ringin Asri ini bisa dibilang kami diberi waktu longgar banget karena ga crash dengan event lain. Venue kami ‘jajah’ sejak H-1, dan hari-H dipake dari jam 6 pagi untuk rias sampe hampir jam 3 sore. Like a boss..

Beres dapet lokasi, giliran baju dan rias. Karena pengalaman2 terdahulu jadi bridesmaid di nikahan para sepupu kebanyakan berujung pada ketusuk2 puluhan jarum hijab, iritasi kulit karena make up ga cocok, sampe pakaian yang bikin badan gerah minta ampun..disini saya mempercayakan ke yang jelas2 aja, yaitu Mbak Devi. Mbak Devi ini kaka tingkat waktu kuliah, kenalnya di HMJ gitu. Nah selain nge-dosen, si mbaknya ini juga udah menekuni dunia make up artist (MUA) bbrp tahun belakangan. Karena kenal cukup baik dan mbaknya sendiri pun sehari-hari juga stylish, jadi aku mikir pasti lebih enak ngomongnya soal nanti pingin digimanain.

Results? Better than I expected!

Yaa yaaa soal yang satu ini saya agak cerewet, karena menurut saya yang penting pakaian sopan, nyaman, dan makeup ga menor hahahaa.. Lucu lagi, karena di koleksi Mbak Devi ga ada yang sreg buat kupakai waktu akad nikah akhirnya atasan kebaya nikah Mbak Reny (sepupu dari Surabaya yg nikah bulan Maret lalu) kuboyong ke Malang. Lumayan toh, daripada dianggurin di lemari? Dan lagi bawahan rok batiknya dapet pinjeman dari Bu Dwi (tetangga depan rumah). Selain itu, sepupuku Mbak Nawang sengaja ngebikinin buket bunga dr coklat yang jadi usahanya di rumah, kece badaaai totally unique & edible! Errrr, kok saya jadi berasa ga modal gini yak..

Make up-nya sesuai request: minimalis ga menor dg warna nude, dan ga bikin iritasi. Sekian :-)

Untuk kostum resepsi, saya pilih perpaduan kebaya dan semacam kain etnik nuansa hijau toska & ungu. Hijab do-nya kami bikin dadakan langsung pas dirias, gitu lah asal nutup dada kan.. Selain saya dan mas Zul, yang pake seragam cuma bapak berdua dan ibunya mas Zul. Ibu mas Zul pake bajunya sendiri supaya nyaman. Selain itu ada 3 of my besties: Adna, Lely, dan Widya yang saya minta tolong bt jaga di buku tamu & bagi suvenir. Kalo sama mereka, ga pake di-briefing macem2 saya mah percaya aja hahaaa..



Oya, ngomong2 soal suvenir, bagi banyak hadirin suvenir kami tergolong ‘nyleneh’. Ini ide aku & bapak sih, karena kebanyakan nikahan yang kami hadiri tuh suvenirnya berakhir tanpa guna akhirnya kami mikir sesuatu yg hampir semua orang butuh: kanebo. Itu looh, lap motor yg empuk2 dan kalo kering mirip kembang tahu. Kanebo kan udah ada wadah tabungnya tuh, tinggal ditempel sticker ‘Terima Kasih’, dibungkus luarnya pake kain tile (jaring2), dan dikasih pita biar greget. Nah, bagian ‘kulak’ kanebo itu urusan Bapak, sementara aku ngurus desain & cetak sticker plus ngebungkus. Jadilah hampir 3 weekend itu dihabiskan dengan jongkok2 di ruang tengah, motong kain secara manual dengan menggunakan petak2 ubin sebagai gantinya meteran. Bapak juga bantu ngebungkus2 pas kami kehabisan waktu. We nailed it, though..fiuuhh



Perihal dekorasi, ini unik sekali. Ya dong, hasil kelihaian tangan Pakdhe Bandi. Karena saya dan mas Zul suka aktivitas outdoor dan kita hidup di negara tropis, akhirnya rangkaian bunga sebagian diganti dengan buah2an (yang mengalihkan dunia hadirin dr meja catering dan di akhir acara pada ‘dijarah’ bt dessert), meskipun masih tetep ada bunga di latar depan. Background pelaminan dikasih dedaunan yg diambil fresh dari pekarangan rumah (Lahh ga modal lagi nihh). Kursi pelaminannya ga empuk, tapi dari kayu full dan menyatu banget dengan konsep dekornya. Dan itu kursi kami pinjam dari ruang restonya Ringin Asri hahaha.. Dan untuk melengkapi segala ke-ga modal-an ini, ada tetangga2 yang pada bantuin utk angkut bahan2 dekorasi dari berbagai lokasi ke Ringin Asri, sekaligus sampe ngangkut keluar pas acaranya kelar. Terharu saya, bahkan pak RT pun ikut angkut2 janur dan batang pohon pisang. Kalo ini sih karena mereka karib sama bapak yaa, heheee..

Sebagai pelengkap, rasanya ga afdol ya resepsi nikah tanpa fotografer utk mengabadikan momen ini. Urusan jepret-menjepret ini kembali saya percayakan pada seorang kawan yaitu mas Toni, yang udah jadi fotografer wedding selama sekitar 7 taun. Kami kenal di PROFAUNA, dulu sering ikut kegiatan suporter sama2. Enaknya lagi apa, kalo udah kenal tuh bisa ga sungkan kalo request2 ato dia mengarahkan gaya (cieeehhh..). Lha mau gimana, pengantin berdua ini jarang ketemu dan pegangan tangan pun ga pernah. Jadi ya gitu2 aja fotonya, malah kalo foto berdua doang pasti kaku. Dimaafin doooong??



Ups hampir lupa, di pojok deket taman outdoor ada panggung kecil yang disemarakkan oleh penampilan artis hits Malang Raya, band temen akuuu namanya Ivana. Awalnya sih mau nyolokin flashdisk isi MP3 doang, plug-n-play. Tapi para pakdhe-budhe request pake bold-italic-underline bahwa harus ada electone. Yaah, aku mah ga suka musik electone. Akhirnya demi kesejahteraan bersama, saya minta tolong teman hits ini buat nyanyi. Aku udah ga ngurusin mau dia nyanyi apa, karena lagu apa aja sama dia jadi enak!

Misal kawan2 ada yang perlu kontak venue, dekorasi, buket coklat, MUA, fotografer, dan musik...saya dengan senang hati akan berbagi :-)

Meanwhile at work, masa2 itu aku lagi puyeng ngerjakan sesuatu yang besar di kantor. Dapet tugas yang sangat menantang, yang di NGO lain biasa dikerjakan oleh om2 expert usia 35+ hahahaaa.. Tugasnya demanding banget, not physically but intellectually. Selain itu ada banyak kegiatan di luar kantor seperti edukasi & kampanye. Udah gitu banyak kasus wildlife crime pula, termasuk ada investigasi & penyerahan satwa dari pemilik.

To be honest, I was a little bit overwhelmed. Tapi saya belajar banyak hal dari persiapan pernikahan ini. Selain bahwa ternyata ‘segitu banyak’ yang mampu kami handle sendiri, hal yang terpenting adalah saya belajar tidak membesar2kan hal kecil, karena dari cerita beberapa orang dan baca2 di internet ternyata menjelang pernikahan banyak orang justru rawan stress karena meributkan hal2 kecil dengan pasangan atau keluarga. Misalnya warna pakaian, jenis bunga dekorasi, jumlah potongan jelly di dalam es buah, bla3..

Dasarnya saya bukan orang yg suka ribet, dan jauh dari sifat perfeksionis sih. Dan lagi mas Zul ahli banget ngadem2in, bahkan dari seberang laut dan tanpa ngapa2in pun dia bisa. Ajaib to? Lagian kalo ngerancang event sehari aja sampe gagal, buat apa 3 taun jd Campaign Officer yg bisa single-handedly ngatur event kampanye tingkat nasional? Malu sama Kukang, hahahaa..

Tapi selama proses itu, sedari awal sampe akhir ada satu hal yang saya yakini: “No matter how old she may be, sometimes a girl just needs her mother.”


Karena pernikahan tanpa didampingi seorang ibu itu menguras energi, kadang bikin emosi, and undoubtedly less groovy..

Tuesday, 26 July 2016

Suntik


“Pakdhemu itu belum sembuh-sembuh, nanti kita paksa ke dokter saja biar disuntik. Kemarin puskesmas ndak mau nyuntik, cuma ngasih pil macem tiga!”

Budhe terus menyerocos soal penyakit demam suaminya yang sudah dua minggu tak kunjung membaik, dan budhe yakin penyakit yang betah numpang di tubuh pakdhe itu adalah karena pakdhe takut disuntik. Luar biasa lagi, tangan budhe tak berhenti meracik rujak uleg selama proses menyalahkan puskesmas soal obat yang diberikan.

“Kalau cuma dikasih pil, ya bisa beli sendiri di warung Mak Ni. Ke puskesmas ya maksudnya biar disuntik. Kalo pil itu pakdhemu nggak mempan, tapi ngeyel. Wong badannya segede gerobak gitu kok,” lanjut budhe sambil tetap melayani pembeli yang siang itu cukup ramai memadati warungnya.

Sudah hampir setahun Pakdhe pensiun dari pekerjaannya di kantor walikota. Sejak saat itu budhe membuka warung rujak dari dana pensiun yang mereka terima. Sementara itu, Pakdhe menghabiskan hari-harinya beternak burung Kenari. Bersenang-senang katanya, menikmati hari tua.

Sudah kucoba menjelaskan bahwa tidak semua penyakit itu berobatnya dengan cara suntik, tapi ternyata semakin membuat budhe berapi-api.

“Jaman dulu, waktu Budhe masih perawan ting-ting, pernah sakit parah. Nggak doyan makan, badan panas, berhari-hari rasanya sendi mau lepas,” omelnya sambil mengupas ketimun.

Lima belas menit kemudian aku menabahkan diri mendengar kisah-kisah masa lalu budhe yang membuatku bisa membayangkan tubuh mungilnya dipenuhi oleh bekas-bekas suntikan. Demam disuntik. Pilek disuntik. Jatuh dari motor disuntik.

Menjelang maghrib warung ditutup, dan kami berdua masuk ke rumah yang ada di belakang warung. Kampus sedang libur, makanya ibu meyuruhku pergi ke rumah budhe.

“Bantu jualan, biar tau cari duit. Sekalian bawa mobil, nanti sore pakdhemu minta diantar ke mantri,” kata ibu pagi tadi.

Selepas maghrib aku mengantar pakdhe dan budhe ke rumah Pak Mantri dengan mobil. Bukan dokter, tapi beliau bisa dibilang lebih tenar di kampung ini daripada dokter ganteng yang tiap hari muncul di televisi dengan berbagai tips kesehatan itu. 

Dokter yang ganteng itu pernah bilang padaku (dari balik layar kaca, tentunya) bahwa demam bisa jadi hanyalah gejala dari penyakit lain yang lebih serius. Bisa jadi, maka belum pasti. Sebetulnya bisa saja mobil ini tadi kubelokkan di perempatan terakhir. Nanti parkirnya di rumah sakit, bukan di gang depan rumah Pak Mantri yang sakti dan terkenal hingga seluruh penjuru provinsi.

Tapi malam itu gang Pak Mantri sepi, tidak ada antrian mengular yang memotivasi tetangganya untuk membuka warung kopi.

PAK MANTRI KE LUAR KOTA MENGHADIRI PERNIKAHAN KEPONAKANNYA. BUKA LAGI MINGGU DEPAN.

“Walaaah, ya sudah kalo gitu kita pulang saja,” kata pakdhe sambil menggosok-gosok sepotong koyo yang menempel di pelipisnya. Sekilas ada nada lega dalam suaranya.

Aku geli melihat pria bongsor ini takut setengah mati pada jarum suntik. Ironis sekali, untuk bisa sembuh dari penyakit yang tergolong sepele seperti demam, seseorang harus melalui metode penyembuhan yang bagi beberapa orang sangat mengerikan.

“Ya sudah, ke rumah sakit saja. Kan ada poliklinik,” saranku. Pesimis.

Akhirnya sepasang suami istri itu minta diantar pulang. Pil sudah habis, badan masih meriang, plus tetap tidak dapat suntik.

Di tengah perjalanan pulang, pakdhe meminta untuk lewat rute yang sedikit memutar. Sepuluh menit berkendara, pakdhe memintaku menepi di sebuah toko yang menjual pakan burung. Oh, rupanya sakit tidak membuat pakdheku lupa dengan kenari-kenarinya. Tak tanggung-tanggung, lima kilo biji-bijian pakan kenari dibelinya.

“Bapak ini lho, kok malah mborong pakan kenari!” protes budhe kesal. Uang yang rencananya untuk membayar biaya dokter kini ludes.

Pakdhe, yang bahkan ketika sehat pun termasuk pendiam, hanya melirik santai ke arah istri yang sudah dinikahinya selama tiga puluh tahun lebih itu. Kode yang membuat suasana perjalanan pulang semakin mencekam.

Kentongan di pos kamling dipukul sembilan kali tak berapa lama setelah kami sampai di rumah. Malam itu kuputuskan menginap saja, karena toh mungkin besok mereka berdua kembali minta diantar kemana-mana. Sepertinya kondisi pakdhe sudah membaik, terbukti malam itu beliau menyibukkan diri membenahi beberapa kurungan kenari miliknya yang rusak. Sementara itu istrinya langsung melenggang ke tempat tidur.

Adzan subuh belum lagi berkumandang ketika aku dikejutkan hingga terbangun oleh teriakan histeris budhe.

“Bapaaaaak, ya Allah paaaak …” ratap budheku sambil mengguncang-guncang tubuh pakdhe yang tergeletak di tengah kurungan kenari yang berserakan. Tubuh tambunnya sudah dingin dan kaku, tapi di wajahnya tersirat senyuman tipis. Tangannya setengah mengepal, digenggamannya terdapat biji-bijian pakan kenari yang sebagian berserakan. 

Kurungan yang terserak disana, semua pintunya terbuka. Penghuninya entah kemana.

Friday, 1 April 2016

"Kukang" yang Dipanggil "Koala": Tak Kenal Maka Tak Sayang

“Apa contoh binatang pemangsa?”

“SINGAAAAA”
“Binatang apakah ini?” (menunjuk gambar Kukang)
“KOALAAAA”



Aktivitas saya sebagai staff kampanye dan edukasi di salah satu organisasi yang bergerak di bidang pelestarian satwa liar sangatlah menyenangkan karena dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada hampir seluruh lapisan masyarakat. Nah, lapisan favorit saya yang juga paling sering membuat resah adalah anak-anak usia sekolah dasar (SD).

Dibalik keceriaan, kepolosan, dan antusiasme mereka saat diajak belajar dan bermain tentang satwa Indonesia, bukan sekali dua kali saya harus menghela napas panjang. Ironi yang meskipun sudah sering muncul tapi selalu menjadi tamparan keras adalah fakta bahwa anak Indonesia lebih familiar terhadap satwa-satwa yang tidak berasal atau ada di Indonesia, ketimbang satwa asli Indonesia. Contohnya kutipan dialog di atas, yang tak hanya terjadi di level siswa SD saja, tapi pernah juga saya jumpai hingga tingkat SMA.


Generasi muda kita lebih mengenal koala daripada tarsius, lebih tertarik melihat gorilla daripada orangutan, dan lebih mengidolakan singa daripada kucing hutan. Saya pun belum terlalu lama meninggalkan bangku sekolah, tetapi seolah ada mata rantai yang hilang di dunia pendidikan saat ini jika dilihat dari segi pelestarian satwa liar. Saya pun mencoba memposisikan diri hingga mengira-ngira bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan dan diatasi.

Pertama, pada usia yang sangat muda kebanyakan dari kita dikenalkan dengan media-media belajar yang merangsang kognitif seperti poster dan buku bergambar. Coba kita lihat di poster-poster tentang mengenal binatang, saya yakin sebagian besar berisi binatang dari luar negeri seperti jerapah, gorilla, kanguru, atau singa. Pada rentang usia 0 sampai sekitar 4 tahun, anak berkembang pesat dalam hal sesorik. Ini juga berarti bahwa apa yang ia lihat pada usia-usia prasekolah ini sangat menentukan pemahamannya terhadap konsep pengenalan lingkungan secara umum.


Jika dalam usia ini mereka dibuat familiar dengan binatang-binatang yang ada di dalam poster atau buku cerita, maka binatang-binatang itulah yang akan berkesan di dalam memori jangka panjang mereka. Dampaknya, empati terhadap kondisi satwa asli Indonesia pun sulit untuk dibangun. Saya kira sudah saatnya orangtua, guru, dan pihak produsen media visual memberikan porsi lebih untuk menampilkan satwa-satwa asli Indonesia dalam benda-benda di keseharian anak.


Faktor lain dari krisis pengetahuan generasi muda terhadap keragaman hayati Indonesia adalah matinya cerita rakyat. Saya katakan mati, karena memang sudah jarang sekali cerita rakyat digunakan dalam proses pendidikan anak baik di rumah maupun sekolah. Etalase toko buku yang pada era 90an banyak diisi oleh buku-buku cerita rakyat dari setiap provinsi, saat ini telah terkudeta oleh kisah-kisah dongeng dari Eropa dan kartun Jepang yang kemudian merambah ke layar lebar dan menjamur di setiap aksesoris anak yang dijual di pertokoan.


Apa hubungannya dengan satwa? Banyak sekali cerita rakyat asli Indonesia yang melibatkan aneka jenis satwa seperti kancil, burung, ikan, anjing, harimau, dan lain-lain entah sebagai binatang dalam kisah fabel ataupun sebagai personifikasi karakter manusia. Melalui  cerita rakyat, secara tidak langsung kita diperkenalkan tentang beragam jenis satwa dan pemahaman bahwa kehidupan manusia dan satwa tidak terpisahkan.


Ketiga, Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 300.000 jenis satwa liar. Maka mustahil untuk memaksa anak mengenal keseluruhan ratusan ribu spesies satwa liar yang ada di Indonesia, bahkan para ahli dan peneliti pun harus memilih spesialisasinya. Salah satu cara yang menurut saya akan efektif jika dapat dilaksanakan adalah dengan mendedikasikan setiap pekan untuk mengenal satu jenis atau kelompok satwa. Misalnya pekan ini adalah “Pekan Penyu”, dimana anak dikenalkan tentang banyak hal terkait kehidupan penyu. Disusul oleh “Pekan Harimau”, “Pekan Elang”, dan seterusnya. Ini sangat mungkin diterapkan di rumah maupun sekolah.

Singkatnya, saya memandang masalah ini tidak rumit. Sebetulnya hanya ada satu solusi untuk menanggulangi keacuhan generasi muda Indonesia terhadap satwa: buat mereka familiar. Hadirkan satwa Indonesia dalam keseharian mereka, baik melalui bahan ajar di sekolah, tayangan televisi, pernak-pernik, hingga percakapan santai di rumah. Peribahasa “Tak kenal maka tak sayang” mempunyai makna yang sangat dalam. Ayo kenali satwa asli Indonesia, kenalkan pada anak, dan selalu pupuk rasa sayang kita pada keragaman hayati Indonesia!

Pantang Menjejak Kalau Hanya Merusak

Ini bukan kisah tentang cinta antar dua hati manusia, tetapi tentang persahabatan antara manusia dan penjelajah lautan hebat namun tak lagi disegani, bernama penyu.



Laut bukan sekedar muara aliran sungai yang membawa kabar dari hulu, tetapi juga muara tempatku mencurahkan berbagai kepenatan hidup sehari-hari. Aku mencintai laut seluas dirinya sendiri, dan mencintai para penghuninya sedalam dasar palungnya. Aku telah memilih bersahabat dengan alam, laut, dan penyu, sebagai jalan hidup. Manusia kerap membuatku kecewa, terlebih mereka yang tak sadar bahwa alam kita istimewa.

Satu fakta yang sangat mencekam hati adalah bahwa masih banyak orang tak bernurani yang tega membunuh satwa langka ini. Demi uang dan kesenangan, darah penyu tertumpah melumuri dagingnya bagai luka menganga mencederai laut bangsa kita yang dahulu pernah jaya. Aku tahu arusnya senantiasa membelai pantai untuk meringankan duka, tapi sia-sia. Telur-telur penyu yang kupercaya berisi harapan masa depan kelestariannya, nasibnya naas karena tak pernah menetas.



Di sela renungan senja, berkali-kali memori masa kecil berkelibatan saat menyenangkan bersama keluarga mengunjungi tempat penangkaran penyu, berfoto bersama, dan membeli liontin kayu berbentuk penyu. Tertawa lepas dan bertepuk tangan riuh kala melepas anak-anak penyu kembali ke laut, tanpa sadar mulut pemangsa seperti apa yang menanti mereka di kedalaman sana.

Liontin itu masih kukenakan sampai sekarang, sebagai pengingat. Masih banyak pantai yang harus kukenali, dan jutaan butir telur penyu untuk diselamatkan dari keserakahan manusia. Kemanapun langkah kaki menuju, pantang jejakku terbenam disana tanpa menjadikan adanya perubahan menuju perbaikan. Pantang menjejak kalau hanya merusak.

Ketahuilah kawan, di antara 1000 telur penyu, hanya 1 yang akan bertahan hingga dewasa. Sungguh tak pantas kita memusnahkan butir-butir karya semesta hanya demi kesenangan semata.

Friday, 19 February 2016

Penyiksa Binatang Kini, Penyiksa Manusia Nanti

Binatang sudah menjadi bagian hidup manusia selama ribuan tahun, dan sepanjang sejarah manusia juga dikenal telah mendomestifikasi berbagai jenis satwa liar untuk berbagai keperluan, seperti anjing, sapi, kuda, dan masih banyak lagi.

Namun, perkembangan peradaban manusia ternyata telah menjadikan sebagian orang kehilangan adab dalam memperlakukan binatang. Banyak faktor telah mempengaruhi pola pikir dan perilaku kita, seperti gaya hidup, kemampuan ekonomi, dan teknologi. Tantangan modernisasi faktanya telah membuat sebagian orang ‘diperbudak’ oleh kebutuhan materi, sehingga menimbulkan stress.

Stress yang berkepanjangan dan tidak dikelola dengan baik suatu saat akan meledak, dan seringkali yang menjadi korban adalah binatang peliharaan. Mengapa? Karena binatang cenderung menurut pada pemiliknya, dan tidak akan melawan apalagi mengadu ke pihak lain. Sudah ada ribuan kasus dimana binatang peliharaan menderita bahkan mati karena dianiaya oleh pemiliknya. Setelah diselidiki, ternyata pemilik yang menganiaya binatang itu sedang mengalami stress akibat permasalahan di tempat kerja, di rumah, dan lainnya.

Selain stress, hal lain yang dapat memicu kecenderungan untuk menganiaya binatang adalah kelainan jiwa. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang ‘hobi’ menyiksa binatang mempunyai kelainan jiwa seperti sadisme, narsisisme, asimpatisme, dan psikopati. yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa banyak sekali pelaku tindak criminal seperti penganiayaan, penyerangan, dan pembunuhan ternyata memiliki riwayat penyiksaan pada binatang di masa lalu, ataupun masih terjadi.


Di Indonesia, sebagian besar dari kita tidak mendapatkan pendidikan sejak dini tentang bagaimana memperlakukan binatang dengan baik. Bukan pemandangan langka ketika sekelompok anak kecil mempermainkan kucing, melempar anjing untuk bersenang-senang, menangkap dan mematahkan sayap kupu-kupu, dan masih banyak lagi penyiksaan terhadap binatang yang seolah menjadi berterima karena membiasa.

Cara apa yang bisa dilakukan untuk mendidik generasi muda tentang cara memperlakukan binatang?
  1. Tanamkan sejak dini dengan contoh nyata, misalnya dengan memelihara kucing dengan perawatan baik. Jangan memelihara binatang jika merasa akan kesulitan untuk merawatnya.
  2. Lakukan dengan berbagai pendekatan baik di rumah, di sekolah, melalui media seperti televisi, dll
  3. Libatkan anak dalam partisipasi aktif, antara lain rutin memandikan binatang peliharaan, membantu organisasi yang peduli terhadap binatang, dll
Seharusnya ini menjadi tanggung jawab orang tua, guru, media, dan tokoh masyarakat. Permasalahannya adalah, bagaimana jika orang-orang dari generasi sebelumnya pun tidak mempuanyai kesadaran yang baik tentang perlakuan yang layak terhadap binatang?

Mata rantai ini harus kita putus, saatnya kita menjadi generasi yang lebih terdidik dan nantinya mampu mendidik anak-cucu kita agar tidak ada lagi kekejaman yang terjadi terhadap binatang. Masyarakat yang individunya memperlakukan binatang dengan baik pasti akan terasah rasa kasihnya terahdap sesama, dan angka kriminalitas otomatis juga akan turun. Mengutip dari Mahatma Gandhi, bahwa "Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moral penduduknya bisa terlihat dari bagaimana mereka memperlakukan binatang."

Friday, 5 February 2016

Hari Primata Indonesia, setelah 3 tahun..

Hari Primata!

Yaa, sebetulnya agak semriwing kalo suruh nyeritain program ini, soalnya sedari awal udah jadi semacam love-hate relationship gitu, hahaha.. Pokonya berasa kalo udah lewat acara yang satu ini udah plong aja selama sisa tahun. Kampanye lain mah nggak ada apa-apanya!

First thing first. Sejarahnya dulu taun 2001 kan PROFAUNA pernah ngadain kampanye tur keliling Jawa-Bali yang judulnya “Primate Freedom Tour”. Waktu itu seru banget, banyak orang yang akhirnya join gitu selama perjalanan. Nah kan seru kayaknya kalo bisa ngadain suatu momen dimana banyak orang bisa ikut mempromosikan perlindungan primata. Maka simsalabim! muncullah ide untuk menginisiasi adanya Hari Primata Indonesia, yang dibikin sesuai tanggal “Primate Freedom Tour”, yaitu 30 Januari.



Berawal dari taun 2014, yang kebetulan adalah tugas pertama aku sejak ngerangkep jadi campaign officer PROFAUNA. Bayangkan betapa horrornya, tugas kampanye pertama adalah sebuah kampanye besar tingkat nasional dan belum pernah dilakukan sepanjang sejarah (sejarah PROFAUNA, wkwkwk).

Bisa dibaca tentang Hari Primata Indonesia 2014 disini dan 2015 disini. (2016 belum keluar)



Singkat cerita tahun 2014 ada 33 event di seluruh Indonesia, tahun 2015 ngangkat tema “Jangan Beli Primata” dirayakan di 51 event, dan tahun 2016 naik lagi jadi 60 event pas ngangkat tema “Stop Perburuan Primata”. So far so good, cuma ya gitu selama bulan Januari selama 3 tahun terakhir ini suka jadi cranky sendiri. Forget PMS, this is way worse. Maklum lah, selama sebulan otak loncat kesana-kemari seluruh Indonesia mulai dari promosi, nemenin kawan-kawan yg belum pernah ato biasa bikin kegiatan, nyiapin plus distribusi material, sampe melayani curhat..lahh pokoknya 24/7.

And hey, do I hate this? No way. This might be one of the best things ever happen to me in this job!
Kenapa?

1.       Kegiatan ini diinisiasi oleh PROFAUNA, keren banget bisa jadi koordinatornya dari awal sampe tahun ketiga dengan progress yang oke. Good for the primates, good for the office, and good for me.

2.       Sepanjang perjalanan tiga taun ini udah ketemu banyak orang hebat yang peduli terhadap perlindungan primata. Bukan cuma supporter PROFAUNA, pokoknya seluruh masyarakat Indonesia lah! Dan di taun 2016 ini banyak orang ato organisasi yang tanpa ngontak PROFAUNA udah bikin kegiatan sendiri untuk hari primata, hmm.. How cool is that?




Tujuan jangka panjang dari adanya Hari Primata Indonesia ini adalah nantinya seluruh masyarakat Indonesia bisa bergerak sendiri, mandiri, dan nggak perlu lagi dikomando oleh PROFAUNA untuk sama-sama bergerak melindungi primata Indonesia. Aamiin. Kalo dari PROFAUNA sendiri kami niatin ibadah aja, karena memang nggak bisa support secara financial ke mereka-mereka yang bikin kegiatan *maafkan kami kakakkk..* Oya, kalo mau download material edukasi & kampanye Hari Primata Indonesia 2016 bisa klik disini.



Seru banget kegiatannya selama 3 tahun ini, ada yang kampanye unik, talkshow di radio/TV, edukasi di anak-anak desa tepi hutan, edukasi sambil naik klotok, lomba mewarnai, dll. Kadang dengan berbagai keterbatasan kawan-kawan di daerah, aku terharu liat semangatnya. Apalagi kalo kegiatannya melibatkan anak-anak, duuuhh..



Sekarang Hari Primata Indonesia 2016 udah selesai. 60 event tersebar di 15 provinsi se-Indonesia. Kalo udah selesai gini biasanya aku udah ceria lagi karena pikiran bisa focus, udah nggak hither-thither lagi. I’m over the crankiness, and so ready for whatever’s coming next!

Terima kasih buat semua kawan-kawan, komunitas, dan organisasi yang terlibat di kegiatan Hari Primata Indonesia sejak tahun 2014 sampe 2016 ini. Terima kasih tak habis-habisnya kepada para partner in crime saya di jajaran staff dan karyawan PROFAUNA Group, you make this possible guys, yeah you fricken awesome dudes! Semoga bermanfaat untuk alam dan kita masing-masing. See you next year! *smooch*

Monday, 18 January 2016

Ambon Story (part 2: down-and-out in Ambon)




Dermaga di pantai Liang
Oke. Setelah ngedorong-dorong ojek akhirnya sampe juga di Pantai Liang. Perjalanannya ampun dah, tapi begitu liat pantainyaaaa..ini pantai paling bagus yang pernah aku datengin! Serius ini, bukan lebay. Kenapa? Pantainya tuh berpasir putih, nggak berkarang-karang, ombaknya kecil, bersih banget ga ada sampah-sampah, dan sepi. Dimana lagi coba jaman sekarang bisa selfie-selfie di pantai tanpa ada seorang pun seliweran photobombing kita? Biasanya sih weekend disana baru rame, menurut ibu-ibu yang jual kelapa muda. Warna airnya juga bagus, gradasi dari pasir putih, air jernih, trus jadi kehijauan, sampe kebiru-biruan.


Gong Perdamaian

Puas main di pantai Liang, saatnya bingung lagi gimana caranya mau ke Ambon. Asli, ini perjalanan paling nekat seumur hidup. Udah sendirian, nggak punya tempat tujuan, nggak ada itinerary. Untungnya dari Liang ada oto yang langsung ke Ambon. Tanpa oper, tapi satu jam lebih perjalanannya, itu padahal jalanan sepi dan dibawa ngebut loh mobilnya!

Jadi, sampe di kota Ambon aku langsung pergi ke Gong Perdamaian yang secara nggak langsung jadi pusatnya kota Ambon. Gong ini jadi simbol perdamaian pasca konflik antaragama tahun … Sekitar 500 meter dari gong, ada masjid Al-Fatah yang dulu jadi tempat pengungsian selama konflik. Biasa aja sih masjidnya kalo secara arsitektur, cuma yaa gede. Hahaaaaa.. Sebetulnya aku ditawarin sharing penginepan sama mba Moja dr Embassy, tapi karena mba Moja-nya susah dihubungi karena lagi snorkeling, akhirnya aku cari penginepan sendiri di sekitar Jl. Sam Ratulangi biar gampang cari makan. Murah sih, 150rb/malam udah layak kalo cuma buat semalem. Berhubung udah tepar banget dari subuh jalan kaki kemana-mana, sore itu akhirnya aku stay aja di penginapan dan keluar cuma buat makan cumi bakar di seberang jalan.


*oya! Di pelabuhan Yos Sudarso Ambon aku lihat Cikalang untuk pertama kalinya!*

Singkat cerita aku nyampe di daerah Taman Makmur, Nusaniwe, tempatnya Museum Siwalima yang berisi ribuan koleksi kebudayaan dan sejarah Ambon. Lokasi museumnya ada di atas bukit (yang kalo jalan kaki sambil bawa full carrier ya lumayan bikin berkeringat lah), menghadap ke teluk Ambon, dan pengunjung disambut oleh patung Pattimura. Sekilas tentang patung ini, yaitu merupakan patung pertama Pattimura yang dibuat pada tahun 1971 dan dulunya ditempatkan di Lapangan Merdeka. Tahun 2015 patung barunya dibuat, dan yang lama dipindah kesini. Jadi guys, ini patung yang asli! Makanya aku ga pengen foto-foto di Lapangan Merdeka, karena sudah terlalu mainstream, hahahaa..



Hari Minggu paginya, aku udah berniat pokoknya harus pergi ke Museum Siwalima. Kenapa harus? Karena rasanya kurang afdol kalo ke suatu tempat tapi nggak ngerti soal sejarah dan budayanya. Untungnya, dan anehnya, pas check out dari penginapan dan nanya kalo ke museum mesti naik oto yang arah kemana….mas yang jaga penginapan ngajakin barengan, karena museum kebetulan searah sama rumah dia. Maka sekali lagi aku jalan sama orang tak dikenal.




Pas nyampe sana, taunya museum lagi renovasi, dan pas aku ke ruang pameran sementara ternyata digembok rapet. Eng ing eng.. sekitar 15 menit aku ‘ngesot’ di depan pintu museum (karena lapar, capek, dan kepanasan), tiba-tiba penjaga museumnya datang dan baru deh dibukain pintunya. Pak Tommy ini akhirnya nemenin aku keliling sambiil sedikit cerita-cerita. Nama “Siwalima” intinya sih “milik bersama” gitu. Koleksinya bagus lo, dikelompokkan per tema, masing-masing di dalam display kaca. Mulai dari fosil tengkorak manusia, kesenian, alat masak, senjata, dll. Yang paling serem di tengah ruangan ada awetan buaya yang katanya pernah memangsa 15 orang!







Nah, pas hari itu lagi ada event pameran “dr. Soetomo” di aula museum, jadi lanjut deh kesana. Kebarengan sama anak-anak SMA gitu, jadilah aku nimbrung sama rombongan mereka (tp muka jawa ini bikin fail sejak awal..). Yang ngadain pameran ini adalah Museum Kebangkitan Nasional, yang memajang poster-poster tentang riwayat hidup dr. Soetomo. Info paling penting adalah bahwa dr. Soetomo TIDAK SAMA denga  Bung Tomo, soalnya sering orang salah kaprah. Singkat cerita, dr. Soetomo adalah salah satu pendiri Budi Utomo, sedangkan Bung Tomo adalah tokoh pemuda yang jadi ikon perjuangan rakyat Surabaya. Dr. Soetomo ga pernah perang-perang gitu.. Btw pamerannya keren lo, masuknya gratis dapet goody bag, buku, dan brosur. Buku loh, bukan buklet ato majalah!


Selesai dari situ, masih bareng rombongan anak SMA, aku balik naik oto lagi ke Ambon. Berhubung waktunya sisa sekitar 2 jam lagi pesawat berangkat, akhirnya langsung naik ojek motor ke Bandara Pattimura. Oya pas sampe Ambon pertama kali aku juga naik ojek motor sampe Natsepa, soalnya selain murah juga lebih asik bisa liat pemandangan dengan tiupan angin semilir. Karena kalo full lewat jalur darat rutenya berputar, akhirnya si bapak ojek nyaranin kita naik feri aja biar lebih cepet sampe. Aku mah ayo-ayo aja! Jadi ini naik feri tapi nggak ke pulau lain, Cuma nyeberang ke ujung sononya, hahaaa.. Seru sih! So on, so on, akhirnya nyampe bandara lagi.


Hmm, jadi begitulah cerita saya curi-curi kesempatan mbolang ke Ambon, being my first time in eastern Indonesia. It’s a beautiful place, and I totally will come again someday. Mungkin ke Ambon, ke Seram, ato ke ratusan pulau lain yang susah disebut satu-persatu, sama kayak ucapan terima kasih artis-artis waktu dapet awards. See you, Maluku!