Hi guys!
Alhamdulillah, setelah sekitar 3 tahun lebih berteman akhirnya saya dan mas Zul menikah (yes, I’m writing this while grinning ear-to-ear). First thing first, kami berdua berterima kasih banyak kepada semua yang telah berada di keseharian kami sejak awal kami berkenalan sampai saat kami menjadi pasangan yang sah. Kami bersyukur dikelilingi orang2 baik, banyak sekali doa terhantar, dan tak lupa nasihat serta wejangan dari kawan2 yang sudah lebih dulu memulai perjalanan. Semoga pernikahan kami barokah, baik bagi kami, keluarga, dan kawan2 semua. Aamiin..
Emang sih, pernikahan kami agak2 mengandung ‘gerilya’ karena baik perencanaan dan persiapan hampir semua tertangani oleh kami sendiri dan baru dimulai sekitar 2 bulan sebelum hari H. Banyak orang2 dekat kami yang menawarkan bantuan, tapi kami merasa masih bisa handle sendiri. Lebih ke alasan praktis aja gitu. Tentang proses lamaran yang minimalis tahun 2015 kemarin pun ga banyak yang tahu, karena ga sampe 10 orang yang hadir. Sederhana saja, di rumah dan hanya makan waktu sekitar 2 jam. Pun begitu dengan acara ‘sowan balik’ ke Jogja, yang to-the-point asal maksud sudah tersampaikan.
Bagi kawan2 & keluarga yang sudah menawarkan diri utk ikut terlibat, sungguh saya bersyukur atas semua itu. Tapi (ya mungkin udah dari sononya) saya lebih nyaman mengerjakan banyak hal sendiri. Entah itu namanya trust issue, overly-introverted, efek lingkungan kerja, atau apalah..tapi saya lebih tenang jika semua langsung saya sendiri yang kerjakan sehingga tau sendiri setiap perkembangannya hehehe..
Yang pertama dikerjakan tentunya hal-hal administratif. Detailnya membosankan, tapi intinya saya kemana-mana sendiri dan paling banter ditemani bapak sebagai wali jika dibutuhkan kehadirannya. Simple as that, karena berkas2 mas Zul sudah kelar dari jauh2 hari. FYI dia pergi ke Kalbar selama hampir 2 bulan waktu itu dan baru pulang ke Jawa 2 minggu sebelum hari H.

Nah, awalnya desain undangan aku pasrahin ke mas Zul karena dia lebih jago ngedesain grafis. Tapi karena di pergi ke Kalbar itu akhirnya saya rampungkan sampai cetak dengan mengais sisa2 ilmu desain yg sudah membatu. Kami punya konsep pokoknya harus mengandung usur birdwatching, kopi, dan buku. Kenapa? Ehm.. karena.. Kebetulan tiga hal itu termasuk hal2 yang kami berdua sama2 menikmati. Selain itu, prinsip undangannya adalah “ntar juga dibuang, jadi ga boleh mahal” dan “Ga usah ditulis gelarnya.”. It’s legit. Banyak orang nikah keluar budget gede di undangan: karton tebel, renda2, wangi, dll. Toh undangan itu intinya ngasih tau acara, tempat, dan waktu. Itu doang kan esensinya. Soal gelar akademik, menurut kami ga penting dicantumin karena acara kami ini ngundang orang dr berbagai latar belakang. Mau S-berapapun sama aja. Ga ada menu VIP, ga ada parkir valet, suvenirnya juga sama semua.
Soal hunting lokasi, itu saya lakukan di sela-sela jam kerja. Dan saya beruntung menemukan lokasi yang cocok tanpa makan banyak waktu. RM Ringin Asri jadi pilihan, karena: 1) Lokasi dekat rumah, 2) Free venue dengan minimum undangan 200 pax, 3) Parkiran luas, dan 4) Jam pemakaian longgar.
Alasan no.1 penting hanya supaya ga rempong transportnya. Alasan no.2 adalah karena saya sudah ga punya cukup energi untuk mikir venue dan catering sebagai item yang berbeda; kalo bisa 2in1, why not?. Alasan no.3 jelas yaa, apalagi saya paling males kalo ada orang punya hajat pake ganggu pengguna jalan. Alasan no.4 adalah karena di banyak venue lain pemakaian lokasi dibatasi hanya 2-4 jam dan akan di-charge lebih kalo overtime. Di Ringin Asri ini bisa dibilang kami diberi waktu longgar banget karena ga crash dengan event lain. Venue kami ‘jajah’ sejak H-1, dan hari-H dipake dari jam 6 pagi untuk rias sampe hampir jam 3 sore. Like a boss..
Beres dapet lokasi, giliran baju dan rias. Karena pengalaman2 terdahulu jadi bridesmaid di nikahan para sepupu kebanyakan berujung pada ketusuk2 puluhan jarum hijab, iritasi kulit karena make up ga cocok, sampe pakaian yang bikin badan gerah minta ampun..disini saya mempercayakan ke yang jelas2 aja, yaitu Mbak Devi. Mbak Devi ini kaka tingkat waktu kuliah, kenalnya di HMJ gitu. Nah selain nge-dosen, si mbaknya ini juga udah menekuni dunia make up artist (MUA) bbrp tahun belakangan. Karena kenal cukup baik dan mbaknya sendiri pun sehari-hari juga stylish, jadi aku mikir pasti lebih enak ngomongnya soal nanti pingin digimanain.
Results? Better than I expected!
Yaa yaaa soal yang satu ini saya agak cerewet, karena menurut saya yang penting pakaian sopan, nyaman, dan makeup ga menor hahahaa.. Lucu lagi, karena di koleksi Mbak Devi ga ada yang sreg buat kupakai waktu akad nikah akhirnya atasan kebaya nikah Mbak Reny (sepupu dari Surabaya yg nikah bulan Maret lalu) kuboyong ke Malang. Lumayan toh, daripada dianggurin di lemari? Dan lagi bawahan rok batiknya dapet pinjeman dari Bu Dwi (tetangga depan rumah). Selain itu, sepupuku Mbak Nawang sengaja ngebikinin buket bunga dr coklat yang jadi usahanya di rumah, kece badaaai totally unique & edible! Errrr, kok saya jadi berasa ga modal gini yak..
Make up-nya sesuai request: minimalis ga menor dg warna nude, dan ga bikin iritasi. Sekian :-)
Untuk kostum resepsi, saya pilih perpaduan kebaya dan semacam kain etnik nuansa hijau toska & ungu. Hijab do-nya kami bikin dadakan langsung pas dirias, gitu lah asal nutup dada kan.. Selain saya dan mas Zul, yang pake seragam cuma bapak berdua dan ibunya mas Zul. Ibu mas Zul pake bajunya sendiri supaya nyaman. Selain itu ada 3 of my besties: Adna, Lely, dan Widya yang saya minta tolong bt jaga di buku tamu & bagi suvenir. Kalo sama mereka, ga pake di-briefing macem2 saya mah percaya aja hahaaa..
Oya, ngomong2 soal suvenir, bagi banyak hadirin suvenir kami tergolong ‘nyleneh’. Ini ide aku & bapak sih, karena kebanyakan nikahan yang kami hadiri tuh suvenirnya berakhir tanpa guna akhirnya kami mikir sesuatu yg hampir semua orang butuh: kanebo. Itu looh, lap motor yg empuk2 dan kalo kering mirip kembang tahu. Kanebo kan udah ada wadah tabungnya tuh, tinggal ditempel sticker ‘Terima Kasih’, dibungkus luarnya pake kain tile (jaring2), dan dikasih pita biar greget. Nah, bagian ‘kulak’ kanebo itu urusan Bapak, sementara aku ngurus desain & cetak sticker plus ngebungkus. Jadilah hampir 3 weekend itu dihabiskan dengan jongkok2 di ruang tengah, motong kain secara manual dengan menggunakan petak2 ubin sebagai gantinya meteran. Bapak juga bantu ngebungkus2 pas kami kehabisan waktu. We nailed it, though..fiuuhh
Perihal dekorasi, ini unik sekali. Ya dong, hasil kelihaian tangan Pakdhe Bandi. Karena saya dan mas Zul suka aktivitas outdoor dan kita hidup di negara tropis, akhirnya rangkaian bunga sebagian diganti dengan buah2an (yang mengalihkan dunia hadirin dr meja catering dan di akhir acara pada ‘dijarah’ bt dessert), meskipun masih tetep ada bunga di latar depan. Background pelaminan dikasih dedaunan yg diambil fresh dari pekarangan rumah (Lahh ga modal lagi nihh). Kursi pelaminannya ga empuk, tapi dari kayu full dan menyatu banget dengan konsep dekornya. Dan itu kursi kami pinjam dari ruang restonya Ringin Asri hahaha.. Dan untuk melengkapi segala ke-ga modal-an ini, ada tetangga2 yang pada bantuin utk angkut bahan2 dekorasi dari berbagai lokasi ke Ringin Asri, sekaligus sampe ngangkut keluar pas acaranya kelar. Terharu saya, bahkan pak RT pun ikut angkut2 janur dan batang pohon pisang. Kalo ini sih karena mereka karib sama bapak yaa, heheee..
Sebagai pelengkap, rasanya ga afdol ya resepsi nikah tanpa fotografer utk mengabadikan momen ini. Urusan jepret-menjepret ini kembali saya percayakan pada seorang kawan yaitu mas Toni, yang udah jadi fotografer wedding selama sekitar 7 taun. Kami kenal di PROFAUNA, dulu sering ikut kegiatan suporter sama2. Enaknya lagi apa, kalo udah kenal tuh bisa ga sungkan kalo request2 ato dia mengarahkan gaya (cieeehhh..). Lha mau gimana, pengantin berdua ini jarang ketemu dan pegangan tangan pun ga pernah. Jadi ya gitu2 aja fotonya, malah kalo foto berdua doang pasti kaku. Dimaafin doooong??
Ups hampir lupa, di pojok deket taman outdoor ada panggung kecil yang disemarakkan oleh penampilan artis hits Malang Raya, band temen akuuu namanya Ivana. Awalnya sih mau nyolokin flashdisk isi MP3 doang, plug-n-play. Tapi para pakdhe-budhe request pake bold-italic-underline bahwa harus ada electone. Yaah, aku mah ga suka musik electone. Akhirnya demi kesejahteraan bersama, saya minta tolong teman hits ini buat nyanyi. Aku udah ga ngurusin mau dia nyanyi apa, karena lagu apa aja sama dia jadi enak!
Misal kawan2 ada yang perlu kontak venue, dekorasi, buket coklat, MUA, fotografer, dan musik...saya dengan senang hati akan berbagi :-)
Meanwhile at work, masa2 itu aku lagi puyeng ngerjakan sesuatu yang besar di kantor. Dapet tugas yang sangat menantang, yang di NGO lain biasa dikerjakan oleh om2 expert usia 35+ hahahaaa.. Tugasnya demanding banget, not physically but intellectually. Selain itu ada banyak kegiatan di luar kantor seperti edukasi & kampanye. Udah gitu banyak kasus wildlife crime pula, termasuk ada investigasi & penyerahan satwa dari pemilik.
To be honest, I was a little bit overwhelmed. Tapi saya belajar banyak hal dari persiapan pernikahan ini. Selain bahwa ternyata ‘segitu banyak’ yang mampu kami handle sendiri, hal yang terpenting adalah saya belajar tidak membesar2kan hal kecil, karena dari cerita beberapa orang dan baca2 di internet ternyata menjelang pernikahan banyak orang justru rawan stress karena meributkan hal2 kecil dengan pasangan atau keluarga. Misalnya warna pakaian, jenis bunga dekorasi, jumlah potongan jelly di dalam es buah, bla3..
Dasarnya saya bukan orang yg suka ribet, dan jauh dari sifat perfeksionis sih. Dan lagi mas Zul ahli banget ngadem2in, bahkan dari seberang laut dan tanpa ngapa2in pun dia bisa. Ajaib to? Lagian kalo ngerancang event sehari aja sampe gagal, buat apa 3 taun jd Campaign Officer yg bisa single-handedly ngatur event kampanye tingkat nasional? Malu sama Kukang, hahahaa..
Tapi selama proses itu, sedari awal sampe akhir ada satu hal yang saya yakini: “No matter how old she may be, sometimes a girl just needs her mother.”
Karena pernikahan tanpa didampingi seorang ibu itu menguras energi, kadang bikin emosi, and undoubtedly less groovy..













