Friday, 20 December 2013

Air, Penyedia Hidup bagi Penjelajah Angkasa


Kita membutuhkan es yang ada di kutub selatan. Serius. Memang tidak secara langsung, tapi kalau mau ditelusuri pasti akan ada hubungannya. Es itu harus tetap ada, tidak boleh mencair, karena ketika es di kutub itu mencair pasti tidak akan lama banyak pulau yang tenggelam. Pulau Jawa mungkin salah satunya, lihat saja bentuknya yang rapuh, kurus dan berbatasan langsung dengan  Samudera Hindia.

Begitu pula dengan burung. Secara langsung ataupun tidak, makhluk Tuhan yang diciptakan untuk mengembara di angkasa itu juga membutuhkan air. Lebih tepatnya air bersih. Tidak sekedar untuk minum, tapi juga untuk makan. Siapa bilang cuma binatang air yang mencari makan di air?

Kesimpulan itu kami dapatkan dari hasil pengamatan kami, tim Jogja Malang Melintang yang terdiri dari Husna, Asti dan Zulfikar, pada hari Sabtu (14/12/2013) di wilayah Tahura Raden Soerjo dalam rangka kompetisi birdwatching yang diselenggarakan oleh Dishut Provinsi Jatim. Lebih tepatnya lokasi pengamatan kami terletak di sebelah barat Gua Jepang yang juga tidak jauh dari tempat pemandian air panas. Jalan setapak yang kami lalui bukanlah jalur utama bagi pengunjung yang terkadang suka berjalan-jalan mencari suasana alam. Semak-semak merintangi langkah kami. Pepohonan besar yang berbalut lumut tampak kokoh di kanan kiri kami, lengkap dengan sulur-sulur liana dan anggrek liar yang seakan menjadi aksesoris pemanis hutan basah itu.  Dengan tebing tanah di sisi kiri dan jurang di sisi kanan, kami terus berjalan sambil mengamati sekeliling, ditemani gemericik air sungai yang berada di dasar jurang tersebut.

Kami memilih jalur ini karena kami penasaran, burung jenis apa sajakah kiranya yang beraktivitas di sekitar aliran sungai. Awalnya kami sempat mengira bahwa sungai tersebut memiliki volume air yang cukup deras dan hangat, namu kami tertipu. Saat kami berhasl menemukan cara untuk turun ke sungai, ternyata faktanya cukup berbeda: sungai itu dipenuhi oleh pipa-pipa yang menyalurkan air untuk irigasi pertanian warga, dan aliran yag tersisa kecil sekali untuk ukuran air sungai di musim penghujan.

Sepanjang perjalanan, langit sangat muram dan matahari seakan sedang enggan berbagi sinarnya, begitu pula dengan burung-burung hutan yang mendiami area seluas lebih dari 27 hektar ini. Gerombolan Sepah Gunung berbaik hati menampakkan kecantikan semburat merah-biru mereka pada kami, sebelum bertengger di pucuk-pucuk pohon tertinggi yang ada disana. Burung jenis ini memang termasuk yang paling mudah ditemui dan dikenali, sedikit saja berbeda dari kerabatnya, Sepah Hutan yang memiliki betina berwarna kuning. Belum jauh kami melangkah, seekor Kepudang-sungu Gunung menyapa kami sebentar sebelum menjauh. Demikian juga dengan seekor Srigunting Kelabu yang menyempatkan diri melintasi kami. Sebagai tambahan, kami pun cukup beruntung dapat berjumpa dengan si imut Berencet Kerdil yang berkelebat di semak-semak.


Namun, dari semua burung yang kami temui hari itu, ternyata justru yang tidak kami lihat dengan jelaslah yang menarik perhatian. Siluet Cekakak Sungai melintas terburu-buru melalui atas kepala kami, disertai dengan suaranya yang khas “Cekakakakaaaakk..” memecah kekhusyukan hutan. Burung yang tubuhnya didominasi warna bru cerah dan putih ini berasal dari famili Alcedinidae. Bersama dengan dua kerabatnya, Cekakak Batu dan Cekakak Jawa, ia dapat ditemukan di dalam kawasan tahura yang memiliki 147 mata air alami ini.
sketsa burung Cekakak Sungai

Burung dari famili ini hampir pasti dapat ditemukan di sekitar sumber atau aliran air yang masih banyak mengandung ikan dan hewan-hewan air kecil lainnya seperti udang atau vertebrata kecil. Dari jauh pun mereka dapat dengan mudah dikenali, pertama dari bentuk paruhnya yang panjang dan kokoh. Paruhnya memang didesain untuk menyambar, menjepit, dan membentur-bentukan mangsanya hingga mati agar lebih mudah dimakan. Ekornya yang relatif pendek menjadi alat penyeimbang yang sangat canggih, akan terlihat saat jenis-jenis burung bersuara lantang memekakkan telinga ini beraksi menyambar mangsanya dalam sekejap mata. Karena menu utama mereka adalah binatang air, maka sudah jelas bahwa kehidupan mreka sangat bergantung pada keberadaan sumber air yang bersih, yang secara otomatis menjamin ketersediaan ikan, serangga, dan hewan-hewan kecil lainnya.

Masih belum selesai kami bernalar tentang Cekakak Sungai dan aliran air, suara burung lain mengusik konsentrasi kami. Meninting! Meski hanya mendengar suaranya, tapi rasanya menyenangkan sekali mengetahui bahwa kehidupan anggota famili Turdidae ini masih terjamin di Tahura R. Soerjo.  Suaranya terdengar cukup lantang, walau pada akhirnya kami tidak berhasil bertatap muka dengan sang pemilik suara meski kami sudah jauh menyusuri setapak sepanjang tepian sungai berbatu. Karena itu pula kami tidak dapat memastikan jenis Meninting apakah dia, karena ada 2 jenis Meninting, yaitu Meninting Besar dan Meninting Kecil, yang tercatat dalam daftar burung penghuni Tahura R. Soerjo yang disusun oleh Seriwang.

Keberadaan Meninting menandakan bahwa ketersediaan sumber dan aliran air di kawasan sekitar pemandian air panas Cangar masih terjaga dengan baik. Dari mana kami menarik kesimpulan itu? Tidak sulit menelusurnya, alasan pertama adalah karena burung-burung famili Turdidae mencari pakan dekat, atau bahkan di permukaan tanah. Menu favorit mereka adalah cacing tanah, seperti yang pernah terekam oleh kamera para fotografer satwa liar. Cacing tanah sangat menyukai tanah yang lembab dan sedikit berair, maka tak heran ketika kita dapat dengan mudah menjumpai burung-burung dari famili yang dikenal bersuara merdu ini berloncatan dengan licah di sekitar aliran sungai. Selain Meninting, kawasan tahura yang memiliki ketinggian sekitar 1500 mdpl ini juga menjadi habitat burung-burung Turdidae lain seperti Anis Sisik, Anis Hutan, Ciung-batu Jawa, Ciung-batu Siul, dan Cingcoang Coklat.

Kembali lagi ke pendapat yang kami sebutkan di awal tadi: Siapa bilang cuma binatang air yang mencari makan di air?

Dari pengamatan serta perenungan kami akan keberadaan burung Cekakak Sungai dan Meninting tadi, kami menjadi yakin bahwa dunia ini memiliki rancangan yang tidak tercela dan serba adil. Bagaimana tidak, bahkan makhluk penjelajah angkasa pun mencari sumber kehidupannya di permukaan tanah, di bawah permukaan tanah, bahkan di bawah permukaan air. Bahkan di sekitar sungai yang kami lalui, yang alirannya tak lagi deras karena telah terbelokkan oleh hausnya perkebunan masyarakat, masih terdapat burung-burung yang persediaan pakannya sangat bergantung pada air. Alangkah ramainya wilayah ini dengan burung-burung Alcedinidae dan Turdidae lainnya andai sungai-sungai disini terjaga debit dan kualitasnya.

Tak dapat disanggah lagi pentingnya sumber dan aliran air bagi semua makhluk hidup, baik secara langsung maupun tidak. Cacing, ikan, dan burung tentu tidak dapat menjaga kelestarian air untuk kehidupan mereka sendiri. Tapi kita, manusia-lah yang wajib memastikan itu untuk mereka, dan untuk kehidupan kita sendiri.

2 comments: