Wednesday, 6 January 2016

Ambon Story (part 1: Natsepa)

Among the perks of working for PROFAUNA is that I get to meet many (kinds of) people and go to places I’ve never imagined before.

Tahun 2015 ini aku lumayan banyak pergi-pergi duty trip sih, mulai dari Jakarta (2x), Bali, keliling Jawa Timur, dan paling jauh Ambon. Emang ya nggak sejauh taun kemarin yang sampe muterin separuh bola dunia, tapi taun ini perjalanannya lumayan menguras tenaga dan emosi. Soal acara di Jakarta & keliling Jatim sebetulnya menarik juga, tapi sekarang mau fokus dulu cerita soal perjalanan ke Ambon.

Inti dari perjalan ke Ambon sebetulnya adalah mewakili PROFAUNA dalam kegiatan Regional Wildlife Trafficking Workshop, yang diselenggarakan oleh Bureau of International Narcotics and Law Enforcement Affairs (INL) yang berkoordinasi dengan Konjen AS di Surabaya. Workshop ini mengundang banyak pihak dari Indonesia & Filipina (kebanyakan Indonesia sih..), terutama dari pemerintah terkait & penegak hukum.

Ternyata aku disana jadi hadirin paling muda, dan satu-satunya cewek yang mewakili Indonesia (di luar panitia). Seru sih, jadi belajar banyak dari dan tentang orang lain, lembaga lain, dan negara lain. Hari pertama, aku presentasi tentang perburuan dan perdagangan burung paruh bengkok (parrot) di wilayah Maluku. FYI, tentang perlindungan parrot di Indonesia timur ini PROFAUNA adalah satu-satunya organisasi yang paham banget karena dari awal tahun 2000an PROFAUNA (waktu itu namanya masih KSBK) sampe 2008 PROFAUNA sering banget kerja disana soal isu parrot, sampe menghasilkan 3 buah report yang sempat nge-hits banget dengan tajuk “Terbang Tanpa Sayap” (“Flying Without Wings”) dan “Pirated Parrot.” Yang aku pelajari sih, di Indonesia kelemahan kita untuk penanganan kejahatan satwa liar adalah minimnya koordinasi antar lembaga, dan juga antara lembaga dengan masyarakat. Materi presentasi dari semua pembicara boleh didownload disini.

Anyway, workshop berjalan lancar banget dari awal sampe akhir. Sekarang waktunya jalan-jalan!! Karena workshop diselenggarakan tanggal 17-19 November 2015, harusnya aku pulang tanggal 20. Tapi panitianya baik dan aku dikasi extend sehari dan dibeliin tiket pulang tanggal 21, yeeiiyyy!!

Tuna Asap
Tanggal 17 sore sebenernya udah sempat eksplor sebentar, dalam rangka cari makan malam. Waktu itu aku dan mas Dwi dari WCS nyoba pergi ke pelabuhan Tulehu. Kalo naik oto (angkot) sekitar 30 menit pake nyasar, hahahaa.. Tp syukurlah kami sempat menikmati menu khas ikan tuna asap yang dimakan pake sejenis lontong. Harganya sekitar 20 ribu per ikan, totalnya semua aku lupa soalnya dibayarin hehehe.. Oya , by the way, mas Dwi ini dulu juga anggota PROFAUNA waktu masih kuliah, jadi dia tau banget dan dulu lumayan sering ikut monitoring pasar burung. Dunia sempit ya? Tp bisa melar..

Hari kedua sempat JJS sorenya, sekitaran hotel tempat workshop & nginep aja. Oya, kami semua stay di dekat pantai Natsepa. Terkenal juga kalo di Ambon sana, soalnya pantainya bagus dan ada rujak buah yang khas banget. Aku pergi sama Enggar dari kantor Bea Cukai Jakarta, kami makan rujak buah yang sekali lagi karena aku dibayarin jadi ga tau harganya. Khasnya apa? Kayaknya gulanya dari aren betulan, karena warnanya lebih gelap dari gula jawa. Selebihnya ya sama dengan rujak buah/manis di Jawa.


Rujak Natsepa

Hari Jumat tanggal 20 November 2015, paginya aku diajak pak Chairul Saleh (aka pak Uyung) pergi ke Telaga Suli buat birdwatching. Sayangnya aku ga bawa kamera yang gede dan binokuler, hiksss.. Tempatnya bagus banget, soalnya kalo pas musim hujan dia jadi telaga, tapi kalo kemarau ato belum banyak hujan dia jadi kering tapi masih ada genangan di sana-sini yang jadi tempat ngumpul burung-burung air. Mereka membaur dalam damai bersama ternak sapi. Di Telaga Suli, kami ketemu Bondol Kepala Hitam, bbrp jenis kuntul, Pecuk Padi Belang, bbrp jenis trinil, sejenis Titihan, bbrp jenis Cabai, Cucak Kutilang, sejenis Cuculidae,dan sejenis alap-alap.

Bukit berhutan di seberang telaga juga kece dan bikin penasaran, sayangnya waktu itu keburu gerimis jadi nggak berlama-lama. Pengamatan sekitar 2 jam itu diakhiri dengan mampir ke rumah seorang warga setempat, pensiunan tentara yang sekarang bertani sambil jaga warung. Kami ngobrol lumayan lama, sambil ngeganjel perut pake donat, roti goreng, pisang, plus teh manis gratis.


Telaga Suli, Ambon

Siangnya, karena udah nggak ada temen yang stay di Ambon, akhirnya aku pergi ke pantai Liang yang tersohor karena pernah dinobatkan sebagai pantai terbaik se-Indonesia di era awal taun 90an. Disinilah perjalanan mulai terasa berat, salah satunya karena udah check out dari hotel jadi harus bawa full carrier kemana-mana. Dari Natsepa aku naik oto yang jurusan ke Waai, dan karena sotoy akhirnya setelah lewat Tulehu baru tau kalo harusnya tadi nyambung oto jurusan lain, jadilah aku diturunin di sebuah pertigaan sepi dan disaranin nunggu oto yang jurusan Liang. Karena oto-nya lama, akhirnya naik ojek. Ternyata emang lumayan jauh, dan berasa lebih jauh karena sekitar 200 meter sebelum nyampe lokasi, ban motor ojeknya bocor. Berhubung saling ngggak tega ngebiarin jalan sendiri, jadinya aku dan kakak ojeknya jalan bareng sampe ke pantai Liang sambil dorong motor. (Bersambung)

1 comment:

  1. Kami merupakan salah satu penyedia jasa persewaan mobil terbesar di Kota Ambon.
    berdiri sejak tahun 2010 dan telah melayani ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara yang berwisata ke Kota Ambon. Kami melayani antar/jemput bandara, drop point to point, Sewa mobil harian dengan atau tanpa supir, drop ke Ora beach, dll

    Lokasi kami terletak di pusat Kota Ambon, mudah dalam reservasi dan memiliki banyak pilihan armada yang dapat anda dan keluarga gunakan.

    silahkan hubungi kami

    CV. Media Lintas Sarana Maluku
    Jasa Persewaan Mobil Terbesar - Terpercaya dan Termurah di Kota Ambon
    Jl. Karang Panjang RT.003/002 (Depan Kantor Partai Demokrat Ambon)
    Telp. 0911 - 3820126
    SMS/WA 081247134134

    Visit our official site :
    www.keliling-ambon.id
    www.mediarentalcar.com
    www.malukurentalcar.com

    ReplyDelete