Wednesday, 26 August 2015

Terbang! Lebih tinggi!

Di sebuah perbukitan yang terbelah oleh sungai yang sangat jernih, terdapat hutan yang ditinggali oleh bermacam-macam hewan. Mereka hidup dengan tenang dan berdampingan. Tidak hanya hewan, lembah itu juga menjadi surga bagi para layang-layang. Angin selalu berhembus dengan tenang, melambungkan layang-layang ke langit sehingga mereka bisa menikmati pemandangan di kejauhan.

Di antara sekian banyak layang-layang itu, ada satu yang tidak suka terbang di langit biru. Ia lebih suka menggantung di ranting pohon. Pohon yang ditempatinya juga dihuni oleh sekeluarga tupai. Layang-layang penyendiri itu akhirnya berteman dekat dengan salah satu anak tupai.

“Hai layang-layang, mengapa kamu tidak terbang tinggi?” tanya tupai kecil.

“Iya, betul. Kamu kan layang-layang, seharusnya kamu berada bersama kami di atas sini,” seru layang-layang lainnya dari ketinggian.

“Aku lebih suka pemandangan di bawah sini, tidak harus menantang angin. Aku suka mengamati sungai dan berbincang dengan  hewan-hewan yang ada di sekitarnya,” jawab si layang-layang penyendiri.

Begitulah kehidupan mereka, selalu damai dan saling berdampingan satu sama lain. Setiap pagi keluarga tupai meninggalkan sarangnya untuk mencari makan di hutan. Siangnya, mereka kembali ke pohon dan kemudian tupai kecil duduk di ranting dekat si layang-layang penyendiri. Mereka akan bertukar cerita. Tupai kecil menceritakan apa saja yang dilihatnya di hutan pagi itu, dan si layang-layang akan berkisah tentang sungai: siapa saja yang datang ke sungai, apa yang mereka lakukan, dan apa saja yang dibawa oleh aliran sungai.

Hingga pada suatu hari muncullah pemandangan aneh yang membuat para layang-layang di langit resah. Layang-layang penyendiri pun bertanya pada kawannya, apa kiranya yang membuat mereka terbang dengan gelisah.

“Kami melihat gumpalan awan hitam yang sangat besar di kejauhan. Angin meniupnya mendekat kemari. Dari atas sini kami sudah merasakan udara bergetar, kami takut tidak dapat menahan hembusannya. Sepertinya badai itu akan melewati hutan ini, kita harus memperingatkan para penghuni hutan,” kata para layang-layang, sambil berusaha tetap terbang.

Layang-layang penyendiri itu kemudian segera memperingatkan keluarga tupai agar bersiap untuk datangnya badai, dan supaya mereka memperingatkan penghuni hutan yang lain.

Keesokan harinya, hutan menjadi sunyi. Semua hewan bersembunyi di sarang masing-masing. Burung-burung pergi mencari tempat yang aman. Tidak ada yang bermain atau minum di sungai. Hanya para layang-layang di langit yang masih terus berjuang melawan hembusan angin yang semakin kencang.

Whoooossshhh.. Whooossssh..

Sreeekkkk!!

Krrrkk-krrrrkkk-kkrrakkkk!!

Satu layang-layang akhirnya gagal menentang kuatnya angin. Rangkanya putus, tubuhnya terkoyak, dan akhirnya ia pun hanyut bersama arus badai yang menerbangkannya entah ke mana. Tak berapa lama, layang-layang lain pun satu per satu harus mengakui dahsyatnya sang badai. Hingga akhirnya tak satu pun layang-layang di langit yang dapat bertahan.

Langit semakin gelap, tampak kosong setelah ditinggal para layang-layang beraneka warna. Hujan turun dengan sangat deras, disertai kilat dan petir yang menyambar-nyambar garang. Para penghuni hutan meringkuk ketakutan di sarang mereka.

Bagaimana dengan si layang-layang penyendiri?

Di pepohonan, hembusan angin tak sekuat di atas. Tetapi guyuran hujan tetap membuatnya lemah. Ia berusaha menambatkan diri di ranting-ranting bohon yang juga tak henti berderit-derit seolah dapat patah setiap saat. Dan yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Layang-layang itu kehilangan tambatannya, dan terhempas ke sungai yang juga sedang gelisah.

🍃 🍃 🍃

Pasrah, si layang-layang pun tak berdaya dan hanya bisa mengikuti aliran sungai hingga esoknya badai berhenti dan si layang-layang tersangkut di bebatuan.  Sekelompok ikan kebetulan sedang bermain di dekatnya. Layang-layang itu merasa terhibur karena dapat melihat bagian dalam sungai dengan lebih jelas daripada saat berada di atas pohon.

Ia melihat aneka rupa ikan, kepiting, keong, kodok, dan terkadang kawanan angsa pun singgah di sungai itu. Ia merasa betah. Ini rumah baruku, pikirnya.

“Hai layang-layang, mengapa kamu berada di air? Bukankah seharusnya kamu terbang di langit?” tanya seekor anak ikan.

“Oh ya, aku sudah pernah tinggal di pohon, menyenangkan sekali berkawan dengan binatang di hutan. Baru kali ini aku ada di air, dan ternyata tidak kalah menyenangkan,” jawabnya.

Hari demi hari si layang-layang penyendiri menikmati kehidupan barunya dengan mengapung di sungai, di antara bebatuan. Namun ia merasa kesepian karena tidak ada kawan yang tinggal bersamanya. Ia merindukan keluarga tupai. Setiap hari kawanan ikan datang dan pergi, demikian pula dengan kepiting, kodok, dan angsa.

Pada suatu hari, sebuah layang-layang putus terbang di angkasa. Bukan layang-layang dari kawanannya dulu, sehingga mereka tidak saling kenal. Layang-layang penyendiri pun berharap kawannya itu akan menengok ke bawah dan menyapanya. Memang layang-layang asing itu menengok ke bawah, tetapi tidak menghiraukan si layang-layang penyendiri.

“Hmm, sepertinya itu bayanganku yang terpantul di permukaan sungai. Mana mungkin ada layang-layang di air,” demikian pikirnya. Ia pun melanjutkan perjalanan.

Hari-hari berikutnya beberapa layang-layang kembali melintas. Tetapi sama saja, tak ada yang menghiraukan layang-layang yang mengapung di sungai. Kalaupun ada, mereka juga berpikir itu bayangan mereka sendiri.

🍃 🍃 🍃

Sementara itu, kondisi layang-layang yang di sungai semakin memburuk. Suatu hari seekor ikan tersangkut pada benangnya dan meronta-ronta hingga rangka si layang-layang nyaris patah. Hari lain, anak-anak itik berebut mematuk si layang-layang untuk bermain, dan pada suatu ketika dua ekor kepiting berkelahi tak jauh darinya hingga si layang-layang pun kembali terkoyak karena capit mereka. Musim hujan tak ketinggalan, menjadikan arus sungai lebih deras dan tanpa ampun menerpanya setiap detik.

Putus asa, si layang-layang penyendiri yang kini sudah compang-camping tak pernah lagi menengok ke atas. Ia kecewa pada kawan-kawan yang tak menghiraukannya.

🍃 🍃 🍃

Musim hujan berlalu, tibalah musim angin sejuk. Si layang-layang semakin sedih dan mengasingkan diri dari sekitarnya. Suatu hari, datang seorang bocah yang mencuci kakinya di sungai setelah bermain. Sang bocah merasa kasihan melihat layang-layang yang hampir karam itu dan memungutnya.

Layang-layang penyendiri terkejut, karena setelah sekian lama akhirnya ada juga yang memperhatikannya. Bocah itu memegangnya erat-erat. Setibanya di rumah, sang bocah mengeluarkan kotak ajaibnya, dan dengan kertas, lem, gunting, dan benang, ia memperbaiki layang-layang itu hingga kembali seperti baru. Layang-layang sangat bahagia dan terharu melihat usaha bocah itu.

Setelah diperbaiki, sang bocah membawa layang-layang ke luar dan berusaha menerbangkannya. Namun, si layang-layang hanya tergolek diam di tanah. Ia takut jika terbang nanti kemudian benangnya putus, ia akan berpisah dari bocah yang menyayanginya ini. Ia tak ingin kehilangan kawan seperti saat berpisah dengan tupai kecil.

“Hai layang-layang, mengapa kamu tidak bisa terbang? Sudah kuperbaiki, sudah kupertemukan dengan angin yang nyaman. Jangan khawatir, aku akan memegang erat ujung benang ini,” sang bocah memohon.

Perlahan si layang-layang menyingkirkan keraguan dan ketakutannya, demi melihat bocah itu gembira. Ia mulai terangkat dari tanah. Semakin tinggi, naik, naik, dan tak lama ia sudah berada jauh dari tanah.

Sesampainya di ketinggian, ia terkejut sekali. Di kejauhan, ia melihat kawan-kawannya terbang bersama seperti dahulu. Ia menoleh ke arah hutan tempatnya dulu, dan dapat melihat hewan-hewan sudah kembali hidup dengan damai, tak terkecuali keluarga tupai yang tengah berloncatan di antara pepohonan. Di sepanjang aliran sungai, ternyata ada ratusan ikan dalam beberapa kelompok yang berenang ke hilir, melewati kodok-kodok berkulit bintik, serta angsa yang mengasuh anak-anaknya.

Layang-layang itu pun tersadar bahwa inilah tempat yang tepat baginya. Belum pernah ia melihat pemandangan seindah ini. Semua yang pernah dikenalnya, terjangkau pandangan mata.

Lalu ia menunduk, melihat sang bocah tertawa riang sambil memegang erat ujung benang layang-layang. Bocah ini menyelamatkannya, menyadarkannya, dan mengembalikan semangatnya. Ia merasa sangat berterima kasih, dan akan melakukan apa saja yang diminta oleh bocah itu. Hanya saja, sang bocah tidak pernah meminta imbalan, selain:

“Terbang! Lebih tinggi!”


No comments:

Post a Comment