Di sebuah perbukitan yang terbelah oleh sungai yang sangat
jernih, terdapat hutan yang ditinggali oleh bermacam-macam hewan. Mereka hidup
dengan tenang dan berdampingan. Tidak hanya hewan, lembah itu juga menjadi
surga bagi para layang-layang. Angin selalu berhembus dengan tenang,
melambungkan layang-layang ke langit sehingga mereka bisa menikmati pemandangan
di kejauhan.
Di antara sekian banyak layang-layang itu, ada satu yang
tidak suka terbang di langit biru. Ia lebih suka menggantung di ranting pohon. Pohon
yang ditempatinya juga dihuni oleh sekeluarga tupai. Layang-layang penyendiri
itu akhirnya berteman dekat dengan salah satu anak tupai.
“Iya, betul. Kamu kan layang-layang, seharusnya kamu berada
bersama kami di atas sini,” seru layang-layang lainnya dari ketinggian.
“Aku lebih suka pemandangan di bawah sini, tidak harus
menantang angin. Aku suka mengamati sungai dan berbincang dengan hewan-hewan yang ada di sekitarnya,” jawab si
layang-layang penyendiri.
Begitulah kehidupan mereka, selalu damai dan saling
berdampingan satu sama lain. Setiap pagi keluarga tupai meninggalkan sarangnya
untuk mencari makan di hutan. Siangnya, mereka kembali ke pohon dan kemudian
tupai kecil duduk di ranting dekat si layang-layang penyendiri. Mereka akan
bertukar cerita. Tupai kecil menceritakan apa saja yang dilihatnya di hutan
pagi itu, dan si layang-layang akan berkisah tentang sungai: siapa saja yang
datang ke sungai, apa yang mereka lakukan, dan apa saja yang dibawa oleh aliran
sungai.
Hingga pada suatu hari muncullah pemandangan aneh yang
membuat para layang-layang di langit resah. Layang-layang penyendiri pun bertanya
pada kawannya, apa kiranya yang membuat mereka terbang dengan gelisah.
“Kami melihat gumpalan awan hitam yang sangat besar di
kejauhan. Angin meniupnya mendekat kemari. Dari atas sini kami sudah merasakan
udara bergetar, kami takut tidak dapat menahan hembusannya. Sepertinya badai
itu akan melewati hutan ini, kita harus memperingatkan para penghuni hutan,”
kata para layang-layang, sambil berusaha tetap terbang.
Layang-layang penyendiri itu kemudian segera memperingatkan
keluarga tupai agar bersiap untuk datangnya badai, dan supaya mereka
memperingatkan penghuni hutan yang lain.
Keesokan harinya, hutan menjadi sunyi. Semua hewan bersembunyi
di sarang masing-masing. Burung-burung pergi mencari tempat yang aman. Tidak ada
yang bermain atau minum di sungai. Hanya para layang-layang di langit yang
masih terus berjuang melawan hembusan angin yang semakin kencang.
Whoooossshhh.. Whooossssh..
Sreeekkkk!!
Krrrkk-krrrrkkk-kkrrakkkk!!
Satu layang-layang akhirnya gagal menentang kuatnya angin. Rangkanya
putus, tubuhnya terkoyak, dan akhirnya ia pun hanyut bersama arus badai yang
menerbangkannya entah ke mana. Tak berapa lama, layang-layang lain pun satu per
satu harus mengakui dahsyatnya sang badai. Hingga akhirnya tak satu pun
layang-layang di langit yang dapat bertahan.
Langit semakin gelap, tampak kosong setelah ditinggal para
layang-layang beraneka warna. Hujan turun dengan sangat deras, disertai kilat
dan petir yang menyambar-nyambar garang. Para penghuni hutan meringkuk
ketakutan di sarang mereka.
Bagaimana dengan si layang-layang penyendiri?
Di pepohonan, hembusan angin tak sekuat di atas. Tetapi guyuran
hujan tetap membuatnya lemah. Ia berusaha menambatkan diri di ranting-ranting
bohon yang juga tak henti berderit-derit seolah dapat patah setiap saat. Dan yang
dikhawatirkan akhirnya terjadi. Layang-layang itu kehilangan tambatannya, dan
terhempas ke sungai yang juga sedang gelisah.
🍃 🍃 🍃
🍃 🍃 🍃
Pasrah, si layang-layang pun tak berdaya dan hanya bisa
mengikuti aliran sungai hingga esoknya badai berhenti dan si layang-layang
tersangkut di bebatuan. Sekelompok ikan
kebetulan sedang bermain di dekatnya. Layang-layang itu merasa terhibur karena
dapat melihat bagian dalam sungai dengan lebih jelas daripada saat berada di
atas pohon.
Ia melihat aneka rupa ikan, kepiting, keong, kodok, dan terkadang
kawanan angsa pun singgah di sungai itu. Ia merasa betah. Ini rumah baruku,
pikirnya.
“Hai layang-layang, mengapa kamu berada di air? Bukankah seharusnya
kamu terbang di langit?” tanya seekor anak ikan.
“Oh ya, aku sudah pernah tinggal di pohon, menyenangkan sekali berkawan dengan binatang di hutan. Baru kali ini aku ada di air, dan ternyata tidak kalah menyenangkan,” jawabnya.
Hari demi hari si layang-layang penyendiri menikmati
kehidupan barunya dengan mengapung di sungai, di antara bebatuan. Namun ia
merasa kesepian karena tidak ada kawan yang tinggal bersamanya. Ia merindukan
keluarga tupai. Setiap hari kawanan ikan datang dan pergi, demikian pula dengan
kepiting, kodok, dan angsa.
Pada suatu hari, sebuah layang-layang putus terbang di
angkasa. Bukan layang-layang dari kawanannya dulu, sehingga mereka tidak saling
kenal. Layang-layang penyendiri pun berharap kawannya itu akan menengok ke
bawah dan menyapanya. Memang layang-layang asing itu menengok ke bawah, tetapi
tidak menghiraukan si layang-layang penyendiri.
“Hmm, sepertinya itu bayanganku yang terpantul di permukaan
sungai. Mana mungkin ada layang-layang di air,” demikian pikirnya. Ia pun
melanjutkan perjalanan.
Hari-hari berikutnya beberapa layang-layang kembali
melintas. Tetapi sama saja, tak ada yang menghiraukan layang-layang yang
mengapung di sungai. Kalaupun ada, mereka juga berpikir itu bayangan mereka
sendiri.
🍃 🍃 🍃
🍃 🍃 🍃
Sementara itu, kondisi layang-layang yang di sungai semakin
memburuk. Suatu hari seekor ikan tersangkut pada benangnya dan meronta-ronta
hingga rangka si layang-layang nyaris patah. Hari lain, anak-anak itik berebut
mematuk si layang-layang untuk bermain, dan pada suatu ketika dua ekor kepiting
berkelahi tak jauh darinya hingga si layang-layang pun kembali terkoyak karena
capit mereka. Musim hujan tak ketinggalan, menjadikan arus sungai lebih deras
dan tanpa ampun menerpanya setiap detik.
Putus asa, si layang-layang penyendiri yang kini sudah
compang-camping tak pernah lagi menengok ke atas. Ia kecewa pada kawan-kawan yang
tak menghiraukannya.
🍃 🍃 🍃
🍃 🍃 🍃
Musim hujan berlalu, tibalah musim angin sejuk. Si layang-layang
semakin sedih dan mengasingkan diri dari sekitarnya. Suatu hari, datang seorang
bocah yang mencuci kakinya di sungai setelah bermain. Sang bocah merasa kasihan
melihat layang-layang yang hampir karam itu dan memungutnya.
Layang-layang penyendiri terkejut, karena setelah sekian
lama akhirnya ada juga yang memperhatikannya. Bocah itu memegangnya erat-erat. Setibanya
di rumah, sang bocah mengeluarkan kotak ajaibnya, dan dengan kertas, lem,
gunting, dan benang, ia memperbaiki layang-layang itu hingga kembali seperti
baru. Layang-layang sangat bahagia dan terharu melihat usaha bocah itu.
Setelah diperbaiki, sang bocah membawa layang-layang ke luar
dan berusaha menerbangkannya. Namun, si layang-layang hanya tergolek diam di
tanah. Ia takut jika terbang nanti kemudian benangnya putus, ia akan berpisah
dari bocah yang menyayanginya ini. Ia tak ingin kehilangan kawan seperti saat
berpisah dengan tupai kecil.
“Hai layang-layang, mengapa kamu tidak bisa terbang? Sudah kuperbaiki,
sudah kupertemukan dengan angin yang nyaman. Jangan khawatir, aku akan memegang
erat ujung benang ini,” sang bocah memohon.
Perlahan si layang-layang menyingkirkan keraguan dan
ketakutannya, demi melihat bocah itu gembira. Ia mulai terangkat dari tanah. Semakin
tinggi, naik, naik, dan tak lama ia sudah berada jauh dari tanah.
Sesampainya di ketinggian, ia terkejut sekali. Di kejauhan,
ia melihat kawan-kawannya terbang bersama seperti dahulu. Ia menoleh ke arah
hutan tempatnya dulu, dan dapat melihat hewan-hewan sudah kembali hidup dengan
damai, tak terkecuali keluarga tupai yang tengah berloncatan di antara
pepohonan. Di sepanjang aliran sungai, ternyata ada ratusan ikan dalam beberapa
kelompok yang berenang ke hilir, melewati kodok-kodok berkulit bintik, serta angsa
yang mengasuh anak-anaknya.
Layang-layang itu pun tersadar bahwa inilah tempat yang
tepat baginya. Belum pernah ia melihat pemandangan seindah ini. Semua yang
pernah dikenalnya, terjangkau pandangan mata.
Lalu ia menunduk, melihat sang bocah tertawa riang sambil
memegang erat ujung benang layang-layang. Bocah ini menyelamatkannya, menyadarkannya,
dan mengembalikan semangatnya. Ia merasa sangat berterima kasih, dan akan
melakukan apa saja yang diminta oleh bocah itu. Hanya saja, sang bocah tidak
pernah meminta imbalan, selain:
“Terbang! Lebih tinggi!”


No comments:
Post a Comment