Sampai sekarang para peternak itu masih melanjutkan hidup dengan damai di kaki sang pemendam bencana.
Erupsi G. Merapi tahun 2010 silam menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi ProFauna, khususnya kawan-kawan yang ikut ambil bagian dalam Tim “Merah” Animal Rescue (video aksi mereka bisa ditonton disini). Kalau saya sih biasa saja, soalnya tidak ikut, hanya kebagian kagum saja pada kawan-kawan yang mempertaruhkan nyawa menantang bahaya wedhus gembel demi menyelamatkan ternak warga yang masih terjebak di kandang-kandang. Hampir 4 tahun berselang setelah erupsi yang sempat mendunia itu, bulan Maret 2014 WSPA (World Society for the protection of Animals) mengirim seorang pembuat video untuk melakukan lookback sekaligus mendokumentasikan kehidupan masyarakat di sekitar G. Merapi saat ini.
| Tim bikin video: Radius-Scott-Asti |
Tapi yang tidak kalah menarik dari kunjungan saya ke Jogja kemarin adalah setengah hari terakhir sebelum pulang ke Jawa Timur. Seperti biasa, adegan klimaks datang belakangan, hahahaa.. Karena mulai awal sampai akhir praktis di lapangan hanya bekerja, bekerja, dan bekerja dan yang dilihat hampir selalu sapi terus maka sepertinya saya layak menyegarkan mata dan pikiran dengan melihat yang lain-lain. Adakah kiranya kegiatan weekend yang lebih asik dari pengamatan burung? Hahaaa.. Sebetulnya ya ada, tapi mumpung di Jogja, dekat dengan TN G. Merapi (yang belum pernah saya rambah), ada temannya, dan ada waktu setengah hari..
Berhubung perjalanan berangkat diisi dengan nguap-nguap dan batuk-batuk, pokoknya singkat cerita tiba-tiba saya dan teman-teman dr Jogja sudah berada di dalam kawasan TN G. Merapi. Tempatnya?
Awal masuk saya tidak tahu sebetulnya apa yang membuat orang datang kemari. Dari pintu masuk, gunungnya tidak terlihat. Tidak ada sesuatu yang menarik selain Gua Jepang, yang notabene ada di seluruh Indonesia. Masuk sedikit, kemudian ada sebuah menara kayu. Didirikan khusus untuk pengamat? Sepertinya tidak, hehe.. Tapi demi menjawab rasa penasaran akhirnya saya naik dan WOOOOOOWWWWW..
Dari atas menara pemandangan yang membuat enggan berkedip itu jadi semakin meriah dengan hadirnya Takur Bultok (Megalaima lineata), Cica-daun Sayap-biru (Chloropsis cochinchinensis), Opior Jawa (Lophozosterops javanicus), Burung-madu Gunung (Aethopyga eximia), dan Burung-madu Sriganti (Nectarina jugularis). Tak lupa saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada sepasang Elang-ular Bido (Spilornis cheela) yang telah sudi menampilakan manuver-manuver aerobatics-nya, serta pada Walet Linchi (Collocalia esculenta linchi) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang selalu hadir dalam setiap pengamatan.
![]() |
| yaiyyyy \^^/ |
Maunya sih selama-lamanya nggak perlu turun dari situ, tapi karena sepertinya TN yang satu ini sangat legendaris dengan penghuni-penghuninya yang sudah sering saya lihat hanya dalam foto, maka berlanjutlah perjalanan. Beberapa ekor Srigunting Kelabu (Dicrurus leucophaeus) bergabung dengan kami menikmati cerahnya sinar matahari. Pengamatan kali ini ibarat mimpi yang masih diimpikan, semuanya terlalu keren! Hahaha.. Maaf kalau kesannya berlebihan, tapi dalam pengamatan burung tidak ada hal yang “biasa saja” bagi saya.
Sampai di suatu titik kami berhenti, karena biasanya teman-teman juga pengamatan disini. Pantas saja jadi spot favorit, hanya berhenti disitu beberapa menit kami sudah disapa dengan kepakan-kepakan lembut oleh seekor Elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang sedang memulai aktivitas paginya. Berputar-putarlah ia di atas garis pandang kami sebelum menghilang di balik bukit seberang, meninggalkan desahan-desahan tidak puas. Kurang lama! Sepertinya desahan kami cepat sekali sampai ke telinga surga, karena tak lama sang Garuda muncul kembali untuk lebih lama memanjakan mata kami dengan keelokannya, sembari berlalu dengan tukikan secepat kilat sebelum menghilang ditelan tabir pepohonan, melampaui jangkauan mata.
Spot itu juga diramaikan oleh beberapa jenis burung-burung lain seperti si imut Wergan Jawa (Alcippe pyrrhoptera), si biru Sikatan Ninon (Eumyias indigo), jantan-betina yang jauh berbeda dari jenis Sikatan Belang (Ficedula westermanni), Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus) yang menyamar diantara dedaunan, dan Takur Tulungtumpuk (Megalaima javensis) dengan mahkota kuningnya yang mencolok.
Seperti biasa, sang waktu seakan meminjam kecepatan cahaya saat dilewati dengan pengamatan burung. Saya harus segera kembali ke kota dan bersiap pulang. Sesuai adab menerima tamu, sepertinya seekor Ciung-batu Kecil (Myiophoneus glaucinus) menyempatkan diri mengantar kami hingga beranda TN.
Khusus untuk Takur Bultok, Cica-daun Sayap-biru, dan Burung-madu Gunung, Wergan Jawa, dan Ciung-batu Kecil, mereka lifer atau baru pertama kali saya lihat. Keren? Iya, bagi saya pribadi.
Tahu-tahu saya sudah kembali ke tanah kelahiran. Dan rindu sudah menyerang, mengobrak-abrik hati saya yang memang dari awal sudah berantakan. Ada yang bilang saya dapat salam dari Merapi, katanya “Kapan balik kesini lagi?”. Hahahahaaa. Getir.
Saya jawab saja dengan doa, “Segera.”
Kaliurang, TN G. Merapi - 8 Maret 2014

aku ora tanggung jawab lho ya... :-)
ReplyDeleteiyaa, biar "teman-teman dr Jogja" yg tanggung jawab :D
Delete