Monday, 17 February 2014

e-Reader Jadi Populer? Tunggu Aja Lah..

e-Reader. Kayakya kata ini masih asing di Indonesia walapun sebetulnya alat ini sudah lama diproduksi, pertama kali pada tahun 1998 yaitu Softbook dan Gemstar’s Rocket eBook Reader. Sudah lebih dari 15 tahun, dan belum ada tanda-tanda e-Reader bakal mencapai kepopuleran di Indonesia.

Pengennya bawa banyak buku selama perjalanan, ribet!
Singkatnya, e-Reader adalah sebuah perangkat elektronik yang didesain khusus untuk membaca file-file digital (dalam format .pdf, .epub, .lit, .mobi, .azw, dan masih banyak lagi). Sebagian memang cuma dilengkapi dengan fitur yang berkaitan dengan kegiatan membaca, seperti toko buku digital, kamus, dan opsi untuk berbagi konten yang dibaca ke jejaring sosial. Tapi ada beberapa e-reader yang juga dilengkapi music player dan games, mungkin buat selingah siapa tau jenuh pas lagi baca.

Ada 2 jenis layar yang dimiliki e-Reader, yaitu layar LCD kayak punya smartphone dan tablet, serta layar e-ink yang tampilannya mirip banget sama kertas biasa. Keunggulan layar LCD adalah kita tetap bisa membaca dalam kondisi cahaya minim dan kita bisa membaca buku dengan tampilan berwarna-warni. Sedangkan layar e-ink unggul dalam hal tidak cepat membuat mata lelah dan tidak silau saat dibaca di tempat yang terang, meski buku yang kita baca cuma bisa muncul dalam warna hitam-putih.

Mengapa tidak populer? Yang pertama, gadget ini masih terbilang mahal. Yang termurah pun masih dibanderol dengan harga di atas 1,5 juta rupiah. Buat masyarakat kita, dengan harga yang sama lebih baik membeli smartphone canggih atau tablet yang lebih keren dan 'gaul' dooong.. Kedua, kurang fungsional karena memiliki fitur terbatas untuk membaca; sekali lagi e-Reader terkalahkan oleh smartphone dan tablet. Alasan yang ketiga, aktivitas membaca masih cenderung dilakukan karena menjadi keharusan, bukan kebutuhan.


Padahal banyak banget manfaat yang kita dapat ketika memiliki e-Reader. Pertama,  bisa bawa banyak bukunggak pake ribet; ini bakal kerasa banget kalo kita bepergian dalam waktu lama, kan repot banget kalo pengen bawa setumpuk buku buat dibaca selama dalam perjalanan. Alasan kedua yang bikin e-Reader layak dipertimbangkan adalah karena buku versi digital akan mengurangi penggunaan kertas dan energi untuk mencetak buku, jadi sambil membaca kita juga jadi lebih ramah lingkungan. Berdasarkan pengalaman pribadi, e-reader juga relatif hemat energi kok. Satu kali nge-charge butuh waktu 2-3 jam, tapi bisa bertahan sampe hampir satu bulan. Bandingkan dengan smartphone atau tablet yang nyaris nggak bisa jauh dari saklar listrik atau powerbank.

Bagi orang yang hobi mengutak-atik gadget, pasti mereka tahu bahwa gadget juga memiliki aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan untuk membaca file digital, termasuk e-book . Tapi sebagian besar pengguna, terutama anak muda, nggak memanfaatkan fitur ini dengan baik. Jarang sekali ketemu anak muda yang sibuk membaca e-book dengan gadgetnya, seringnya pasti sibuk mainan games, nge-"autis" di jejaring sosial, atau berkomunikasi dengan teman-teman yang jauh disanaaa. Penggunaan gadget untuk menunjang kepentingan bisnis dan pendidikan pun masih terbatas pada kalangan tertentu saja.

e-Reader ini yg aku punya, Nook Simple Touch :)
Secara pribadi, sejak tahun 2011 sampai sekarang saya masih tergila-gila pada e-Reader punyaku yang berlayar e-ink dan berukuran sedikit lebih kecil dari buku tulis. Sangat mudah dibawa-bawa, dan dengan memori eksternal 4GB, bisa deh ribuan e-book dimasukin sekaligus. Selain itu aplikasi kamus yang terintegrasi itu jauh lebih asik daripada harus ngebolak-balik kamus tebel yang kadang berakhir jadi bantal. Karena beli buku secara online juga masih agak susah, maka dowload e-book gratis jadi pililihan satu-satunya. Meski demikian, ada banyak buku yang nggak tersedia dalam versi digital gratis sehingga cuma bisa dibaca dalam versi cetak. Beberapa buku juga lebih nyaman dibaca dalam versi cetak sih, biar bisa dicoret-coret dan cepat dibolak-baliknya seperti buku pelajaran dan buku untuk anak-anak.

Pesatnya laju penggunaan smartphone dan tablet di Indonesia ternyata tidak menjamin perangkat elektronik lain juga akan banyak diminati yaa. Hmm, mungkin hanya masalah waktu. Semoga saja.

Tiba-tiba sepupuku yang sekarang sudah kelas 4 SD mendekat,

"Mbak, aku mau main pake itu. Main tembak-tembakan," katanya sambil menunjuk e-Reader yang ada di sampingku.

"Wah itu  beda sama punya bapakmu. Itu nggak bisa buat mainan, cuma bisa buat baca buku," aku berusaha menjelaskan sesederhana mungkin.

Kemudian tanpa komentar apa-apa sepupu kecil itu nyelonong  pergi begitu saja. Ah, mungkin memang ketidakpopuleran ini nggak sederhana...

No comments:

Post a Comment