1 Januari 2014, taun baruuu!
Berhubung semalem bubuk cantik
saja di rumah dan tidur pules setelah kembang apinya habis, jadilah paginya
bangun segar bugar dan siap beraksi. Seperti hari pertama di tahun 2013, libur
yang cuma sehari ini harus dimanfaatkan buat pengamatan burung, hehee.. Bedanya
waktu itu aku ke hutan kota, kali ini Wendit yang jadi tujuan. Selain cuaca
yang kurang mendukung, lalu lintas Malang-Batu yang bikin mata pedes, rasa
kangen karena lama tidak berkunjung juga jadi alasan kedua roda si vega oranye
menggelinding ke arah timur Kota Malang.
Sampe di sana belum terlalu rame sih kalo di sungai
belakang, jangan tanya di tempat wisatanya. Muacet pol, aku yakin monyet-monyet
di dalam sana lagi hidup dalam keberlimpahan. Eh, dateng-dateng udah disambut
sama Bondol Jawa & si cantik Cipoh Kacat. Maunya jalan jauuuuh sampe ke
ujung jalan setapak, tapi berhubung banyak bapak-bapakyang lagi mancing (dan
mandi, dan beol) plus aku cuma
sendirian, jadinya agak males nge-nuwun sewu-in segitu banyak orang.
Pemandangan nggak banyak berubah: sungai dan kangkung. Jangan tanya jenis capung, ndak paham. Yang jelas dari penjelajahan yang ndak jauh itu, ragam capungnya ndak sebanyak terakhir kali ke sana. Burung jenis-jenis walet dan Cucak Kutilang yang ndak pernah absen di hampir segala lokasi juga masih sliweran meskipun rintik-rintik air hujan mulai menyapa.
Loncat ke jam 11.00, ketika sekelebat makhluk berwarna biru
cerah terbang menyapu permukaan air dan kemudian hinggap di patok-patok bambu
pembatas kebun kangkung di pertengahan lebar sungai. Oooh, sejenis cekakak dan
raja-udang. Padahal bawa fieldguide MacKinnon, tapi susah mau ngeliat kalo
sambil berdiri, 1 tangan pegang binokuler, 1 tangan pegang kamera.
“Diamati sek ae, disketsa, trus difoto. Ident kari ae..”
begitu pikirku.
Dan memang baru kali itu aku puas banget ngamatin burung air.
Good boy, nggak kabur-kabur dia. Tengger di patok bambu, terjun sekejap mata ke
ai, balik tengger lagi. Aaah, dimanjakan sekali mata ini. Kalo burungnya duduk
manis, bikin sketsanya pun enak. Difotonya juga nggak terlalu susah, tapi nggak
terlalu nyampe juga zoom-nya hehee..
Bagian atas kepala, seluruh punggung, dan sayap warnanya
biru cerah, punggungnya ada sedikit corak hijau toska (“turquoise” kalo bahasa
kerennya). Seluruh dada dan perut warnanya merah bata terang, begitu juga
dengan sedikit area di belakang mata yang disambung dengan bagian tengkuk
berwarna putih. Bagian bawah depan leher juga ada strip putih, sementara kedua
kaki mungilnya berwarna merah jambu. Cantikkk…
Sekitar sepuluh menit, dia bergeser ke sebelah kananku
(jangan tanya arah mata angin, buta! buta!). Ikutin aaaah.. Dalam perjalanan,
mataku menangkap ada gerakan mencurigakan di sesemakan kangkung. Laaah ada
Bambangan ternyata. Bambangan apa ya? Masalahnya dia cuma kelihatan punggung dan
kepalanya aja. Dapet fotonya pun nggak bagus, ndak bisa buat identifikasi. Meskipun
kemudian dia pindah tengger ke dahan
pohon jati, cuma bisa lihat di binokuler dada telanjangnya yang
bercoret-coret vertikal dan kepalanya yang ndak ber-“topi”. Condongnya ke
Bambangan Merah, tapi kepastiannya baru dateng 4 hari kemudian.
Nah, ketemu lagi si biru! Meskipun dia nggak banyak ulah
hanya tengger, preening (matuk-matuk badan sendiri untuk mbersihkan bulu), dan
sesekali terjun ke air, tapi masih belum puas rasanya ngamatin badannya yang
kecil, nggemesin, dan ya ampun imuuuuut banget! Yaa yaaa, memang agak lebay,
tapi andai di sana nggak rame orang mungkin aku juga udah teriak-teriak
kegirangan. Sampai waktu bergulir bersama datangnya hujan pun dia masih betah
di tempatnya tengger, meskipun agak menjauh ke bawah rumpun bambu. Dengan berat
hati akhirnya aku pulang, sampe rumah langsung buka fieldguide buat
identifikasi si biru tadi, dan eng ing eeeeeng:
Raja-udang Erasia
Sangar caaak, migran ikuuu! Menurut mbah MacKinnon, dia
adalah “pendatang yang jarang di …” Wuiih, langsung kontak mas Heru buat
memastikan. Meskipun punya dokumentasinya tapi takutnya salah lagi kayak
sebelum-sebelumnya waktu ketemu spesies spektakuler yang ternyata salah
identifikasi . Reaksinya mas Heru? Galau sampe gulung-gulung dia di Tulungagung
sana, karena di Malang belum pernah ada yang nemuin Raja-udang Erasia. Kalau dilihat di direktori foto FOBI, baru pernah difoto di Bogor, bantimurung, SumUt, NTT, dan Bangka. Sekian
taun ngamatin burung, baru ini aku nyumbang catatan buat Seriwang. Sungguh
mengharukan, hiksss..
Sungguh pembuka tahun yang meluluhkan hati, datang dari jauh dan
bersedia mampir di Wendit untuk sedikit membagi kilauan biru metalik-nya hingga membuat seluruh perairan 20 kali lebih
indah dari aslinya. Serius, ini ajaib. Wendit loh, perairan yang nggak bersih
lagi karena banyak pertanian dan dipakai untuk MCK warga. Karena ini tamu
kehormatan dari jauh dan datang untuk mencari suaka, maka sebagai penghargaan
akan saya buat deskripsinya dalam bahasa Indonesia, ngambil sumber dari berbagai
info di website yang nggak abal-abal. Jadi begini …
Pada suatu masa, di abad ke 6 SM, hiduplah seorang penyair Yunani
bernama Sappho. Dalam beberapa fragmen puisinya ia menceritakan Atthis, putri raja Cranaus. Kecantikan Atthis inilah yang kemudian membuat namanya diambil
menjadi nama satu spesies burung, yaitu Raja-udang Erasia (Alcedo atthis).
Spesies ini ternyata punya lumayan banyak subspecies, ada 7
(Ngguaya banget yo aku ngomong ilmiah..). Tapi dari 7 itu yang deskripsi
persebarannya paling mendekati daerah sini adalah Alcedo atthis bengalensis ,
yang berasal dari daerah India Timur sampai Asia Tenggara, serta dari Cina
bagian selatan hingga ke Siberia Tenggara, Mongolia Timur, dan Jepang. Nah, pas
musim dingin subspesies ini bermigrasi ke Sunda Besar, Sulawesi Utara, Kep.
Sula, Maluku Utara, dan Filipina. Hebatnya, ketika bermigrasi mereka lebih
sering terbang pada malam hari lhoo..
Kalau antara jantan dan betina, perbedaannya ada di paruh:
yang jantan seluruhnya berwarna hitam, kalau betina paruh bawahnya berwarna
kemerahan. Sedangkan untuk individu mudanya, warna bulu cenderung lebih kusam
dan kehijauan. Jadi yang aku lihat kemarin itu yang jantan, dan dewasa.
Burung jenis ini hidup soliter, kecuali pas musim kawin. Karena
kemarin juga aku ketemunya dia lagi sendirian aja, mungkin memang bukan musim
kawin. Menurut literatur sih betinyanya bisa bertelur 2-3 kali dalam
setahun mulai awal April hingga awal Oktober, dan bisa menghasilkan 6-10 telur
yang berwarna putih mengkilat dalam sekali bertelur. Masa hidupnya juga lumayan
panjang, bisa sampai usia 15 tahun. Sayangnya hanya 50% dari anakan yang
menetas yang dapat bertahan hingga usia dewasa. Sedih juga ya L
Meskipun ukuran badannya kecil, si Common Kingfisher ini hidup
secara territorial sama halnya seperti burung-burung dari famili Alcedinidae
lainnya. Ini penting, karena mereka harus makan 60% dari berat tubuhnya setiap
hari, sehingga mereka wajib memastikan wilayahnya di sungai, danau, atau rawa
itu aman dari individu lain. Makanannya sebagian besar yaa ikan dan hewan-hewan
air berukuran kecil. Karena itu juga, burung-burung jenis Raja-udang ini bisa
jadi indikator pencemaran air.
Sebelum memakan ikan hasil tangkapannya, Raja-udang Erasia
ini akan menjepit ekor si ikan dengan paruhnya dan membentur-benturkan kepala
si ikan ke batang pohon yang dihinggapi. Setelah itu, biasanya mereka akan
merawat tubuhnya dengan cara membersihkan bulu dengan paruhnya, ini dilakukan
agar bulu-bulu mereka tetap tahan air.
Meskipun termasuk jarang sekali ditemui di Indonesia,
spesies ini sangat umum di tempat asalnya (makanya disebut “Common Kingfisher”)
dan daerah persebarannya juga sangat luas. Ini menjadi alasan status
konservasinya secara internasional menurut
IUCN masih “Berisiko Rendah” atau “Least Concern”.
Gilaaa, nggak nyangka banget di Wendit bisa dapet catatan
yang asik kayak gini! Pembuka tahun yang sangat cantik..eh, ganteng! Semoga ini
bukan temuan menarik yang terakhir dan puncak yaaa.. Ini juga jadi pengingat
untuk memulai bikin catatan pengamatan. Udah berapa taun birding tapi nggak
punya catatan, jiaann ngawur! Selamat memasuki tahun 2014, semakin semangat
birding, sinau, membaca, menulis..dan selalu bereksplorasi!



No comments:
Post a Comment