Sunday, 10 November 2013

Jalan-jalan yang mahal !

3 November 2013, dicatet ya: hari itu saya mengalami hari yang kacau-balau.

Berawal dari posting tentang hasil pengamatan migrasi raptor di paralayang, Batu, dimana di antara komentar2 ada pertanyaan apakah nggak ada teman-teman pengamat burung di Malang yang coba ngamatin di sekitar TWA Baung, Purwodadi. Waaah, kebetulan saya belum pernah kesana meskipun lumayan sering denger-denger namanya. Maka resmi sudah TWA Baung jadi next destination.
Karcis masuk lokasi TWA Baung

Awalnya sih kabarnya beberapa teman dari MEL mau ikutan, tapi berhubung Selasa-nya itu libur Tahun Baru Hijriah, dan seninnya adalah "harpitnas" jadinya banyak yang pulang. Akhirnya habis, nggak ada yang jadi ikut. Tapi jalan-jalan tetep dilanjuuut :)

Dari segi jarak dan lokasi, TWA Baung gampang banget dicapai. Lokasinya persis di (insyaALLAH) sebelah utara Kebun Raya Purwodadi. Nempel gitu lah, gampang kok. Di samping Kebun Raya ada jalan kecil gitu masuk kampung, tinggal lurus aja pokoknya nggak mungkin nyasar. Buktinya aku nggak nyasar, berarti gampang toh? hahahaa

Masuk lokasi jam 08.00 masih sepi bangeeet, petugas loketnya belum ada sampe akhirnya aku dilayani beli karcis oleh seorang mbah-kung yang jualan mijon di situ. Bayar tiket masuknya Rp3000, standar sih nggak kebangetan kayak masuk ke Paralayang!

Junonia iphita
Setelah basa-basi sebentar dengan si mbah-kung dan seorang guru dari Bojonegoro yang kebetulan ngantar murid-muridnya camping di camping ground Baung, pengembaraan pun di mulai. Sepi total. Kata si mbah-kung kalo ke air terjun mesti lewat tangga-tangga dulu, semuanya ada 216 anak tangga (tapi nggak sempat ngebuktiin sih, males..) Sepanjang perjalanan menuruni anak tangga, saya disambut puluhan kupu-kupu yang memenuhi udara seperti daun-daun berguguran.

Yup! Tempat yang nggak banyak dikunjungi manusia memang selalu menyimpan sesuatu yang menarik. Susah juga mau nyebutin ada jenis kupu-kupu apa saja, soalnya kebanyakan beterbangan nggak ada berhentinya, dan (menurut saya) identifikasi kupu-kupu itu jauuuhhh lebih bikin otak retak-retak daripada burung. Bisa gila betulan kalo diminta ngitung titik-titik dan pola garis di sayap sementara si kupu-kupu terbang, sulapan banget kalo bisa, hahahaaa..

Saat-saat seperti inilah yang membuat saya sangat mencintai "solo journey". Bepergian sendiri tidak mengikat kita pada kepentingan orang lain. Waktu bebas dihamburkan sesuka hati, mau berhenti mantengin sebuah objek berapa lama pun bebas. Coba kalo sama orang lain, harus ada negosiasi. Harus saling toleransi dan ada yang ngalah, and it could be really annoying sometimes..muuhhhh~

Tapi kadang ada sedikit rasa ngeri ketika jalan sendirian. Bukan takut setan (NO!), tapi manusia. Positive thinking aja sih, toh sejauh ini alhamdulillah belum ada pengalaman buruk dengan sesama manusia. Tapi terus terang ketika berjalan menuruni tangga dan tanah semakin menjulang di sisi kanan sedang di sisi kiri dasar jurang makin mendekat, bunyi "krusekkkk..kresaaaakkk.." ibarat langkah-langkah kaki barisan tentara kompeni di atas genteng, tengah malam..ah!

Ternyata yang bikin bunyi "krusekkkk..kresaaaakkk.." tadi salah satunya adalah seekor ular. Seru juga nih! maka duduklah saya dengan asik mengamati bagaimana si ular kecil yang imut merangkak (eh, apa istilahnya yg tepat?) dari tanah, melingkar dan beringsut naik di antara batang-batang pohon sampe akhirnya dia nyampe sebuah tonjolan batu yang menjorok masuk ke dinding tanah. Kereeeen! Kenapa keren? karena ular bergerak mengandalkan seluruh otot di tubuhnya sampe bisa badannya (dari kepala-hampir ekor) berdiri tegak. Subhanallah sekali lah! Oya, setelah dishare dengan teman-teman ternyata ular itu tadi namanya Dendrelaphis pictus, dan dia tidak beracun (gambar di samping). Nice!

dasar monyet loe!
Saking terkesimanya ngeliatin si ular, saya sampai tidak sadar kalo ada bunyi "kricik kricik" di samping saya. Ah, biasa lah di deket air terjun biasanya ada rembesan/tetesan air dari batu. Kemudian baru nyadar, di atas nggak ada batu, adanya pepohonan. Noleh lah saya ke atas, daaaaan di atas ada sekelompok Monyet Ekor Panjang menyeringai gembiran sambil garuk-garuk pantat. Puas dah tuh kayaknya! Untung nggak kena pipisnya, kampret.. sialan.. pergi ah

Singkat kata sampailah saya di sungai dan air terjun. I wasn't so impressed by the waterfall, for the water was kinda dirty and it was impossible to swim due to the deep stream. Malah katanya Zia disitu wingit, Irul pake nambahin katanya disitu sering ditemuin mayat yg kebawa dari sungai di atas. Waktu kemarin cuma ada beberapa pasangan muda-mudi yang sibuk 'ehem ehem' sendiri, dan 2 orang mas-mas yang lagi mancing. Sambil menikmati pandangan yang bisa luas dan leluasa celingukan siapa tau ada raptor lewat, sembari membiarkan hati terlena oleh tarian ratusan kupu-kupu yang berkerumun sepanjang batas air, saya memilih sebuah batu yang cukup datar dan luas untuk berleha-leha. Memang tanggung rasanya kalo ke air terjun tapi nggak pake main-main air.
Air terjun Coban Baung

Lalu terjadilah tragedi yang MAHAL itu. Hari itu beberapa teman pergi ke Nganjuk, ngunjungin salah satu teman yang barusan nikah. Harusnya aku ikut, tapi nggak jadi. Maunya nanya kabar, udah sampe apa belum, udah ketemu orangnya apa belum..lah karena tas udah berantakan aja dan untuk ngeluarin hape mesti ngeluarin & masukin ulang banyak benda lain, akhirnya si hape ditaruh ada di batu di samping persis, sambil nata ulang isi tas. Eeeh pas ditengok lagi, si hape udah on the way meluncur jatuh, free falling, menuju ke air. Jiaaaahhh!! Udah, berusaha ditangkap & dikejar pun nggak keburu. Bunyi "Plung! Blubppp.." itu masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Buru-buru aku lepas sandal & kaos kaki, siapa tau bisa dijangkau. Pas masuk ke air, udah lewat batas pinggang dan belum ada tanda-tanda mendekati dasar sungai, akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk mengikhlaskan saja hape kesayangan saya itu (iyo lah kesayangan, wong cuma 1-1nya..hahaa). Sambil celingukan (takut diliat orang, malu ketauan bodohnya) saya pun sempat 'thenger-thenger' di atas batu gede, kalo diliat orang mungkin wajah saya mirip beruang nungguin salmon loncat dari dalam sungai. Gak iso mikir.


But things could totally be even worse. Di hape itu nggak ada apa-apanya, cuma kontaknya aja yang sayang kalo hilang tapi toh bisa dicari lagi. Sms-sms kenangan udah nggak ada (preeettt..). Aku juga nggak pernah foto-foto vulgar disitu (eh!). Hilangnya pun di sungai, bukan dicuri orang yang bisa menyalahgunakan. Kalo sampe yang jatuh ke sungai itu kamera ato binokuler, pasti nangis aku! Worst case scenario-nya, aku yang (entah gimana ceritanya) jatuh ke sungai, dan nggak ada yang nolongin. Trus ada buaya atau ular di dalem air, hiiiyyy.. Pokoknya bersyukur lah, saya nggak kehilangan lebih dari sebuah hape!

Jalan-jalan kali ini memang absurd. Udah hape ilang, nggak nemu raptor, air terjunnya jelek... tapi dapet 1 foto kupu-kupu spesial lhoooo, namanya Rohana nakula. Jenis ini endemik Jawa dan tergolong sangat jarang dijumpai, isn't that cool??

Rohana nakula (female)
Demikianlah, mungkin saya kurang shodaqoh. Mungkin ibadah saya masih belepotan. Mungkin memang tempatnya angker. Sudahlah! Untuk berikutnya harus lebih hati-hati, itu saja dulu. Yang jelas saya tidak segitu mudahnya dibikin kapok jalan-jalan sendirian! Seperti pesan dari pakdhe Robert Frost:

These woods are lovely, dark and deep,

But I have promises to keep,

And miles to go before I sleep,

And miles to go before I sleep.

1 comment: