![]() |
| jantan |
![]() |
| betina |
Phylum ARTHROPODA
Class INSECTA
Order LEPIDOPTERA
Suborder GLOSSATA
Family SATURNIIDAE
Name (Scientific) Attacus atlas
Name (English) Atlas Moth
Atlas Moth (Attacus atlas), atau ngengat Atlas, adalah salah satu jenis lepidoptera terbesar di dunia. Rentang sayap terbesar yang pernah tercatat adalah selebar 26,2 cm. Meski masih setingkat di bawah rentang sayap Thysania agrippina, yang pernah ditemukan dengan rentang sayap selebar 27–28 cm, dalam hal luasan total sayap sangat mungkin Atlas moth adalah lepidoptera yang terbesar, luas keseluruhan sayapnya bisa mencapai 400 cm².
Nama Atlas diambil dari nama seorang tokoh mitologi Yunani, Atlas, yang seumur hidup dihukum untuk menyangga bumi di atas pundaknya. Demikian karena pola pada sayap ngengat ini agak mirip dengan sebuah peta. Ujung-ujung sayap bagian atas melengkung ke bawah, dan oleh banyak orang dianggap menyerupai kepala ular, serta terdapat dua jendela transparan yang menyerupai mata. Kegunaan dari kedua pasang portal yang sangat menarik dan tampak rapuh ini masih belum jelas, tapi diduga sangat berperan dalam menghindari predator. Sementara itu, bagian tubuhnya dipenuhi bulu dan sangat kecil bila dibandingkan dengan besarnya sayap mereka
Larva (ulat) Atlas moth berukuran besar dan mencolok, tapi memiliki system pertahanan yang kuat karena mampu menyemprotkan suatu zat yang berbau tajam yang mereka gunakan saat menghadapi vertebrata dan semut pemangsa. Mereka dapat menyemprotkan zat itu hingga sejauh 50 cm. Larva dari serangga yang lazim ditemukan di Asia Tenggara ini menghasilkan sutra dengan cara yang hamper sama dengan ulat sutra biasa (Bombyx mori), meskipun sutra yang dihasilkan mengandung komposisi asam amino yang berbeda. Jika Bombyx mori memintal kepompongnya dari seutas serat sutra yang tidak terputus, Attacus atlas membuat kepompong dari kumpulan patahan serat sutra. Namun demikian, di India Utara kepompong ngengat Atlas merupakan bahan baku sutra yang sangat tahan lama, yaitu sutra Fagara.
Ngengat Atlas betina berukuran lebih besar, tapi tidak memiliki antena di kepalanya. Mereka menarik perhatian para pejantan dengan cara mengeluarkan feromon melalui sebuah kelenjar di bagian ujung abdomen (perut). Para pejantan, yang berukuran relatif lebih kecil, memiliki sepasang antena besar dan berbulu di kepala mereka yang dilengkapi dengan reseptor kimia untuk mendeteksi keberadaan feromon yang dihasilkan sang betina. Karena Atlas moths bukanlah penerbang yang stabil, para betina tidak akan bepergian terlalu jauh, hanya bertahan di satu dahan yang memiliki aliran udara terbaik untuk menyebarkan feromonnya
Setelah kopulasi, betina akan menghasilkan telur-telur sebesar 2,5 mm. Telur-telur Atlas Moth biasanya terletak di bagian bawah dedaunan. Telur akan menetas setelah 8-14 hari bergantung pada suhu udara . Ulat-ulatnya berwarna hijau kebiruan dengan lekuk-lekuk di seluruh tubuhnya dan tertutup serbuk putih halus. Setelah mencapai ukuran maksimal,ulat akan memintal kepompong sepanjang 7-8 di antara dedaunan dan menempel ke dahan dengan seutas benang sutra. Di dalam kepompong tersebut, larva akan bermetamorfosis selama kurang lebih 4 minggu sebelum menjadi ngengat Atlas yang baru.
Attacus atlas dewasa tidak makan sama sekali selama fase dewasanya, yang berlangsung sekitar 2 minggu. Mereka bahkan tidak memiliki mulut, sehingga hanya bertahan hidup dengan sisa cadangan lemak yang mereka simpan sejak masih berbentuk ulat. Ngengat dewasa dengan cepat berbiak, bertelur, dan tak lama kemudian mati.
sumber:
http://www.waza.org/en/zoo/pick-a-picture/attacus-atlas
http://www.peaceinspire.com/2012/01/10/attacus-atlas/
http://www.naturia.per.sg/buloh/inverts/atlas_moth.htm
http://www.waza.org/en/zoo/pick-a-picture/attacus-atlas
http://eol.org/pages/385381/details
http://sains.kompas.com/read/2012/03/02/0024199/Cantiknya.Ngengat.Terbesar.di.Dunia


No comments:
Post a Comment