Monday, 27 October 2014

Akhirnya, nge-Trisik Juga..

rombongan Kedidi Leher Merah (FOTO: Mas Uup)

Jogja. Dari dulu pantai yang terkenal disana nggak ada lagi selain Parangtritis, tentunya dengan aroma mistis ala Nyi Roro Kidul-nya. Dulu sekali pernah kesana, pas SMP deh kalo nggak salah. Nggak ada yang berkesan, jadi lupa.

Kalo dirunut ke balakang, aku mulai tau ada pantai namanya "Trisik" dari foto-fotonya mas Uup. Menggelitik banget namanya, dan sama sekali asing. Dia bilang disana banyak banget disana burung pantainya, bla3..sementara waktu itu aku masih buta sama sekali soal burung pantai. Burung hutan yang gampang ketemu aja masih suka burem yaa

Area pantai Trisik ini nggak cuma soal garis temu antara pesisir selatan Pulau Jawa dengan Samudera Hindia, tapi ada banyak spot yang susah buat saling dilepas satu sama lain. Kalo berangkat dari Sleman, pokoknya ngikut aja deh sama yang nyetir, dan sekitar 1 jam kemudian bakal sampe ke daerah yang terbelah antara Kab. Bantul dan Kulonprogo. Jadi alkisah ada sebuah sungai, namanya (Kali) Progo yang jadi perbatasan kedua kabupaten tersebut; Kulonprogo di sisi Barat (kulon), dan Bantul di sisi Timur (wetan).

Dipercepat yes. Pada sebuah kunjungan ke Jogja, tepatnya tanggal 7 September 2014 (amazing banget masih inget tanggalnya..) akhirnya kesampean juga aku pergi ke Trisik! Setelah berbulan-bulan eneg dipamerin foto-foto dari Trisik terus sm konco-konco Jogja, seneng banget akhirnya bisa menginjakkan kaki diiii:

Sawah

Walah kok jadi ke sawah? Hmm, ternyata saya harus bersabar menikmati prosesnya. Ternyata oleh mas Zul aku dibawa langsung ke pantai, tapi ke sebuah lokasi bernama "Laguna", yang juga sering jadi persinggahan burung-burung pantai yang berasal dari belahan Bumi utara.

ini yang disebut "Laguna"
Eh, sebelum ke laguna kami mampir dulu di daerah persawahan beberapa ratus meter sebelumnya. Di petak-petak yang belum ditanami tapi sebagian besar sudah dibajak itu ternyata banyak siluman. Burung pantai brooo! Mereka nyamar dengan lihainya di antara rumput liar dan tanah bajakan. Sekilas nggak keliahatan karena burung-burungnya lumayan kecil, didominasi jenis Cerek (Charadriidae). Laguna ternyata adalah sebuah ceruk berair payau yang masih masuk dalam lingkup muara Kali Progo. Beberapa tambak udang buatan tengah beroperasi, sibuk sendiri cuek dengan bentang alam yang dicaploknya, bikin mual seperti habis makan udang. Kontras dengan jajaran pohon cemara yang menghiasi sisi lain lengkung laguna. Cantik! Burung-burungnya tidak terlalu ramai, masih ditemani dengan setia oleh Cerek Jawa dan Trinil Pantai.

Cerek Jawa  (FOTO: Mas Zul)

Kami lanjut meluncur ke delta Kali Progo. Jadi biar saya luruskan: "pergi ke Trisik" itu bukan "pergi ke pantainya", tapi "pergi ke delta". Yup! Pantai Trisik teksturnya berpasir dan berbatu, dan tidak ada yang spesial disana. Tapi kalo mundur sedikit ke delta Kali Progo, hmmmm..bikin males pulang! Untuk kali pertama aku kesana, musim migrasi memang baru mulai. Jadi cukup beruntung kami ketemu tambahan antara lain Kedidi Leher Merah, Kedidi Besar, Trinil Pembalik Batu, dan Gajahan Pengala. Selain burung-purung pantai, kami juga sempat bersapa dengan Cangak Abu, Kuntul Cina, dan Kuntul Kerbau. Jangan salah, walaupun cuma ketemu segitu jenis, saya gatot identifikasinya lho..hahaaa!

Gaya dulu di muara Kali Progo :D

Karena masih belum puas penasarannya sama burung pantai, yang kebetulan nggak ada di sekitar Malang , akhirnya berangkat lagi dengan gembira ke Jogja pada tanggal 18 Oktober 2014. Selain ada agenda pribadi (preketek), kebetulan tanggal 18-19 Oktober KPB Bionic UNY lagi ngadain event "Festival Burung Pantai". Hari pertama diisi dengan sesi materi dari mas Kukuh, mas Shaim, dan mas Imam. Pokoknya gitu deh, tentang identifikasi, studi-studi, seluk-beluk Trisik, pentingnya burung pantai, dll. Hari berikutnya baru kami pergi "praktek" ke Trisik.

Rameee!!

Ya rame orangnya, ya rame burungnya. Lebih deh kalo 50 orang aja. Mereka ya dari UNY sendiri, dari Jogja dan sekitarnya, dari Semarang, dan dari Malang pastinya (padahal cuma 2 orang). Disana ada yang udah mulai guling-guling di pasir demi ngedapetin foto terbaik dari para "wader" atau perancah.

Pada kepanasan yaaa.. (FOTO: Strix)

Burung-burung perancah sebetulnya berukuran relatif besar dan bisa dilihat dari jauh tanpa binokuler atau monokuler, tapi cara begitu nggak bakal bisa identifikasinya. Sempat ada penjelasan singkat plus ilustrasi di atas pasir dari mas Kukuh mengenai dasar identifikasi burung pantai. Pertama dilihat dulu postur tubuhnya secara umum (tegak, membulat, ..), terus lanjut ke bentuk paruh (pendek, panjang, lurus, melengkung ke atas atau bawah, perbandingannya dengan panjang kepala,..), kemudian proporsi kaki (pendek, jenjang, perbandingan tungkai atas & bawah,..), habis itu perilakunya (matok2 pasir, loncat2, ..), dan baru terakhir kita lihat pola bulunya. Tadaaaa! Tetep bingung.

Yang jelas (menurut ingatanku) hari itu kami ketemu Cerek Jawa (dia penetap sih..), Kedidi Besar, Kedidi Leher Merah, Biru Laut Ekor Blorok, Gajahan Pengala, Trinil Pantai, dan Trinil Pembalik Batu. Plus-plusnya ada Dara Laut Jambul, Dara Laut Kecil, dan Kuntul kecil.

Kedidi Besar (FOTO: Mas Uup)

Segitu itu jumlah jenisnya lho, kalo jumlah individunya sih udah ratusan individu. Seriusan, kalo baru pertama kali begini rasanya pusing, semacam mabok lah. Mereka bisa membaur satu sama lain, bikin puyeng kalo nggak pake monokuler. Tapi nggak papa lah ya, namanya juga sinau pasti dimulai dari nggak bisa, dan bingung kemudian. Sebagai selingan asik juga pengamatan burung pantai, pengamatan sambil duduk tenang di hamparan pasir, nggak pake tengadah-tengadah ke langit, anginnya semilir bikin ngantuk pula.  Sensasinya beda dengan pengamatan burung hutan atau raptor.

Esensi dari eksplorasi di dunia birding ini ternyata nambah pengalaman, nambah ilmu, nambah teman, nambah fans (??)..yang jelas nambah semangat!! Selalu ada tempat baru untuk dikunjungi, orang-orang baru untuk dikenal, burung-burung baru untuk diamati, dan cerita untuk dibagi.

No comments:

Post a Comment