Tuesday, 22 January 2013

Belajar Bersama Calon Capung


21 Januari 2013 "Just another day, started out like any other.." 

Boleh lah hari Senin ini dimulai dg normal yaa, meskipun agak limbung karena weekend & bbrp hari sebelumnya dihajar event CINTAinterfaith Dialogue. Alhamdulillah meskipun tidak tanpa cela, event berjalan lancar dr awal sampe akhir. 

Meskipun sedikit exhausted kyk zombie, tp nggak menghalangi niat untuk berangkat ke Wendit bareng Putri & mas Feri dr IDS dalam rangka mencari nimfa capung. Nyampe perairan dekat Wendit sekitar jam 4 sore, kami langsung....gulung celana!! Berbekal jaring & botol utk menampung tangkapan nimfa, mulailah perburuan tersebut. Jadi mas Feri yg terjun ke air sambil ngobok2 pake jaring diantara hutan eceng gondok, aku yg megangin botol siap2 menampung tangkapan, sementara Putri njelasin bbrp jenis capung yg beterbangan di sekitar kami. Hmm ada byk jenis sih kmrn, tp cm bbrp aja yg aku inget di antaranya Capung-sambar Hijau / Orthetrum sabina, Capung-sambar Senja / Tholymis tillarga (jantannya berbadan merah dg spot biru-putih di kedua sayap belakang), 
Capung-jarum kepala-kecil / Pseudagrion microcephalum (capung jarum berwarna biru mencolok), dan mungkin jg Capung-sambar garis-hitam / Crocothemis servillia kalo nggak Capung sayap-oranye / Brachythemis contaminata (mirip sihh, nggak yakin mana yg mana dan mungkin jg ada kedua-duanya). Kan masih belajar, hahaaa.. *ngeles*


salah satu jenis capung yg paling eksis,hehe.. Capung-sambar Hijau (Orthetrum sabina).
courtesy: Swasti P.M.

Intermezzo yaa..Capung termasuk dlm ordo odonata, dan secara umum bs dibedakan mjd capung (dragonfly) yg berukuran cukup besar dan capung jarum yg berukuran lebih kecil (damselfly). Sedari masih bentuk nimfa, yg merupakan fase terlama dr siklus hidup odonata, bentuk keduanya sudah berbeda lhoo.. Nimfa dragonfly bentuknya cenderung agak bulat & gendut (??) sementara nimfa damselfly lebih langsing & panjang. Namun, keduanya pun sudah merupakan karnivora yg cukup ganas sejak masih nimfa, kanibal pula. 


salah satu jenis capung jarum/damselfly yg sering dijumpai, Capung Hantu Kaki-Kuning, jantan (Copera marginipes). courtesy: Swiss Winnasis


Beberapa menit ngobok-obok lumpur diantara kebon2 kangkung sekitar Wendit,akhirnya kami berhasil menemukan beberapa nimfa capung (dragonfly) yg berukuran sekitar 1-2 cm. Karena penasaran & ada lokasi yg mau dilihat lg kondisinya, akhirnya kami lanjut menyusuri pinggiran sungai dimana kami banyak bertemu dg orang2 yg mancing ikan. Kemudian kami berbelok memasuki areal persawahan, hingga sampai ke tempat dimana banyak terdapat rumpun bambu, yg sayangnya tidak serimbun dulu karena dibabat demi pembangunan. Di daerah perairan sekitar rumpun bambu inilah kami menemukan beberapa nimfa capung jarum (damselfly). Selain itu kami juga menemukan sejenis serangga air yg sangat menyerupai batang kayu, beberapa pasangan bekicot yg sedang kawin (serius!), seekor belut kecil yg begitu kami masukkan botol langsung dikeroyok (dicicipin kali ya??) oleh para nimfa dg liarnya. Kasiaannn.. Sempat mau nyemplung ke lokasi lain sih, tp begitu liat ular air berenang dg gemulai dg kepala terangkat di atas air, kami langsung ngarasa bahwa sudah waktunya pulang, hahahaaa..



bentuk + bagian2 nimfa capung
Sebetulnya buat apakah kami mencari2 nimfa dragon-damselfly ini? Bukan buat diternak lhoo, tp buat dipelajari, bagaimana perkembangan nimfa dan prosesnya sampe menjadi capung. Bakal lumayan lama sih, bs sampe 3-4 tahun katanya, tp pastinya menarik, apalagi mereka cukup ganas hoho.. Jd temen2ku dr Indonesia Dragonfly Society (ceritanya aku lg excited belajar ttg capung dr temen2 disana nihh,hohoo) udah bikin ekosistem buatan yg semirip mungkin dg kondisi alami, tp dinding kacanya memungkinkan kita utk melihat nimfa dr luar, walaupun kadang mereka suka sembunyi di antara akar2 tanaman air. Tujuan akhirnya tetep, untuk melestarikan capung & habitatnya.

Emang kenapa mesti melestarikan capung? Capung, selain menarik karena ragamnya yg sangat cantik & bervariasi, juga memegang fungsi penting di alam, yaitu sebagai indikator kebersihan air (krn nimfa ccapung hanya bs hidup di air yg bersih & ada tanamannya). Selain itu nimfa capung yg merupakan karnivora jg kerap memakan jentik2 nyamuk yg menjadi medium penyebaran bbrp penyakit. Sementara itu, capung dewasanya juga berperan sebagai predator yg turut mengontrol jumlah populasi serangga hama lainnya. 

Btw, ada juga lho beberapa jenis capung yang statusnya terancam punah dan masuk IUCN Red List! Wahh.. Bahkan sudah tercatat ada beberapa jenis capung yang dinyatakan punah akibat hilangnya ekosistem mereka, yaitu hutan dan sumber air. Hilang atau rusaknya habitat secara langsung sangat berpengaruh bagi capung, terutama nimfa-nimfa capung hutan yang sangat sensitif terhadap perubahan atau polusi lingkungan.

Hmmm, jadi begitulah sodara-sodara.. Selama ini memang yg banyak terekspose sebagai makhluk-makhluk terancam punah mayoritas adalah satwa-satwa besar seperti harimau, orangutan, primata, dll. Tapi selain itu ternyata banyak juga makhluk yang kadang tidak terperhatikan tapi juga tak kalah terancam keberadaannya. Disinilah letak peran manusia untuk mempelajari dan melestarikan, karena satwa liar tidak bisa bicara tapi kita bisa berbicara untuk mereka (`∀`)v eh tapi yo nggak cuma bicara seh, berbuat dooong.. Kalo besok mati, kita sudah ngapain?

2 comments:

  1. siiiip wes, kudune kuliah nok pertanian jurusan hama penyakit tumbuhan khusus entomologi -maman-

    ReplyDelete