21 Januari 2013 "Just another day, started out like
any other.."
Boleh lah hari Senin ini dimulai dg normal yaa, meskipun agak limbung karena weekend & bbrp hari sebelumnya dihajar event CINTAinterfaith Dialogue. Alhamdulillah meskipun tidak tanpa cela, event berjalan lancar dr awal sampe akhir.
Meskipun sedikit exhausted kyk zombie, tp nggak menghalangi niat untuk berangkat ke Wendit bareng Putri & mas Feri dr IDS dalam rangka mencari nimfa capung. Nyampe perairan dekat Wendit sekitar jam 4 sore, kami langsung....gulung celana!! Berbekal jaring & botol utk menampung tangkapan nimfa, mulailah perburuan tersebut. Jadi mas Feri yg terjun ke air sambil ngobok2 pake jaring diantara hutan eceng gondok, aku yg megangin botol siap2 menampung tangkapan, sementara Putri njelasin bbrp jenis capung yg beterbangan di sekitar kami. Hmm ada byk jenis sih kmrn, tp cm bbrp aja yg aku inget di antaranya Capung-sambar Hijau / Orthetrum sabina, Capung-sambar Senja / Tholymis tillarga (jantannya berbadan merah dg spot biru-putih di kedua sayap belakang), Capung-jarum kepala-kecil / Pseudagrion microcephalum (capung jarum berwarna biru mencolok), dan mungkin jg Capung-sambar garis-hitam / Crocothemis servillia kalo nggak Capung sayap-oranye / Brachythemis contaminata (mirip sihh, nggak yakin mana yg mana dan mungkin jg ada kedua-duanya). Kan masih belajar, hahaaa.. *ngeles*
![]() |
| salah satu jenis capung yg paling eksis,hehe.. Capung-sambar Hijau (Orthetrum sabina). courtesy: Swasti P.M. |
Intermezzo
yaa..Capung termasuk dlm ordo odonata, dan secara umum bs dibedakan mjd capung
(dragonfly) yg berukuran cukup besar dan capung jarum yg berukuran lebih kecil
(damselfly). Sedari masih bentuk nimfa, yg merupakan fase terlama dr siklus
hidup odonata, bentuk keduanya sudah berbeda lhoo.. Nimfa dragonfly bentuknya
cenderung agak bulat & gendut (??) sementara nimfa damselfly lebih langsing
& panjang. Namun, keduanya pun sudah merupakan karnivora yg cukup ganas
sejak masih nimfa, kanibal pula.
| salah satu jenis capung jarum/damselfly yg sering dijumpai, Capung Hantu Kaki-Kuning, jantan (Copera marginipes). courtesy: Swiss Winnasis |
Beberapa menit ngobok-obok lumpur diantara kebon2 kangkung
sekitar Wendit,akhirnya kami berhasil menemukan beberapa nimfa capung
(dragonfly) yg berukuran sekitar 1-2 cm. Karena penasaran & ada lokasi yg
mau dilihat lg kondisinya, akhirnya kami lanjut menyusuri pinggiran sungai
dimana kami banyak bertemu dg orang2 yg mancing ikan. Kemudian kami berbelok
memasuki areal persawahan, hingga sampai ke tempat dimana banyak terdapat
rumpun bambu, yg sayangnya tidak serimbun dulu karena dibabat demi pembangunan.
Di daerah perairan sekitar rumpun bambu inilah kami menemukan beberapa nimfa
capung jarum (damselfly). Selain itu kami juga menemukan sejenis serangga air
yg sangat menyerupai batang kayu, beberapa pasangan bekicot yg sedang kawin
(serius!), seekor belut kecil yg begitu kami masukkan botol langsung dikeroyok
(dicicipin kali ya??) oleh para nimfa dg liarnya. Kasiaannn.. Sempat mau
nyemplung ke lokasi lain sih, tp begitu liat ular air berenang dg gemulai dg
kepala terangkat di atas air, kami langsung ngarasa bahwa sudah waktunya
pulang, hahahaaa..
| bentuk + bagian2 nimfa capung |
Emang kenapa mesti melestarikan capung? Capung, selain menarik karena ragamnya
yg sangat cantik & bervariasi, juga memegang fungsi penting di alam, yaitu
sebagai indikator kebersihan air (krn nimfa ccapung hanya bs hidup di air yg
bersih & ada tanamannya). Selain itu nimfa capung yg merupakan karnivora jg
kerap memakan jentik2 nyamuk yg menjadi medium penyebaran bbrp penyakit. Sementara
itu, capung dewasanya juga berperan sebagai predator yg turut mengontrol jumlah
populasi serangga hama lainnya.
Btw, ada juga lho beberapa jenis capung yang statusnya terancam punah dan masuk IUCN Red List! Wahh.. Bahkan sudah tercatat ada beberapa jenis capung yang dinyatakan punah akibat hilangnya ekosistem mereka, yaitu hutan dan sumber air. Hilang atau rusaknya habitat secara langsung sangat berpengaruh bagi capung, terutama nimfa-nimfa capung hutan yang sangat sensitif terhadap perubahan atau polusi lingkungan.
Hmmm, jadi begitulah sodara-sodara.. Selama ini memang yg banyak terekspose sebagai makhluk-makhluk terancam punah mayoritas adalah satwa-satwa besar seperti harimau, orangutan, primata, dll. Tapi selain itu ternyata banyak juga makhluk yang kadang tidak terperhatikan tapi juga tak kalah terancam keberadaannya. Disinilah letak peran manusia untuk mempelajari dan melestarikan, karena satwa liar tidak bisa bicara tapi kita bisa berbicara untuk mereka (`∀`)v eh tapi yo nggak cuma bicara seh, berbuat dooong.. Kalo besok mati, kita sudah ngapain?
Btw, ada juga lho beberapa jenis capung yang statusnya terancam punah dan masuk IUCN Red List! Wahh.. Bahkan sudah tercatat ada beberapa jenis capung yang dinyatakan punah akibat hilangnya ekosistem mereka, yaitu hutan dan sumber air. Hilang atau rusaknya habitat secara langsung sangat berpengaruh bagi capung, terutama nimfa-nimfa capung hutan yang sangat sensitif terhadap perubahan atau polusi lingkungan.
Hmmm, jadi begitulah sodara-sodara.. Selama ini memang yg banyak terekspose sebagai makhluk-makhluk terancam punah mayoritas adalah satwa-satwa besar seperti harimau, orangutan, primata, dll. Tapi selain itu ternyata banyak juga makhluk yang kadang tidak terperhatikan tapi juga tak kalah terancam keberadaannya. Disinilah letak peran manusia untuk mempelajari dan melestarikan, karena satwa liar tidak bisa bicara tapi kita bisa berbicara untuk mereka (`∀`)v eh tapi yo nggak cuma bicara seh, berbuat dooong.. Kalo besok mati, kita sudah ngapain?

siiiip wes, kudune kuliah nok pertanian jurusan hama penyakit tumbuhan khusus entomologi -maman-
ReplyDeletewaaah..nanti bs2 aku jd zindeer jg :D
Delete