Georg Roed, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, tiba-tiba mendapatkan sebuah surat panjang dari ayahnya, Jan Olav, yang sudah meninggal selama 11 tahun. Dalam surat panjang itu, ayahnya bercerita tentang suatu kisah yang berpusar di sekitar seorang Gadis Jeruk yang ditemuinya hanya sesaat pada suatu hari di dalam sebuah trem, gadis itu telah membuatnya jatuh cinta. Jan Olav terus mencari-cari keberadaan tentang si Gadis Jeruk yang kemudian sampai membawanya bepergian ke Sevilla, Spanyol, tempat perkebunan jeruk terbaik berada. Di sana, Jan Olav dan si Gadis Jeruk yang ternyata bernama Veronika, akhirnya menyadari bahwa keduanya telah saling mengenal pada waktu kecil sebelum kemudian terpisah tanpa pernah bertemu lagi. Pertemuan di Sevilla itu memunculkan kembali hubungan antara keduanya, hingga kemudian menikah dan mempunyai anak Georg.
Tapi ketika Georg berusia 4 tahun, Jan Olav meninggal dunia karena sakit parah. Pada hari-hari terakhirnya, Jan Olav menyempatkan diri untuk meninggalkan sesuatu bagi Georg, yaitu surat panjang yang bercerita selain tentang kisahnya dengan si Gadis Jeruk, juga tentang pandangannya tentang alam semesta dan kehidupan. Jan Olav memandang alam ini sebagai sesuatu yang penuh keajaiban..
Seekor rusa tiba-tiba melompat dari semak-semak, menatapmu tajam selema sedetik –kemudian hilang. Jiwa apa yang member gerak pada hewan itu? Kekuatan tak terjelaskan apa yang mendekorasi bumi dengan bunga-bunga dalam setiap warna pelangi dan menghias langit malam dengan renda-renda kerlip bintang yang cemerlang?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang terus diungkapkan oleh Jan Olav. Sebagai seorang dokter, ia memiliki pemikiran yang modern. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti percaya pada suatu ‘kekuatan yang lebih besar’, dan tetap melihat alam semesta sebagai sesuatu yang sederhana dan tidak perlu selalu dijelaskan. Gadis Jeruk juga telah mengajarkan Jan Olav untuk mengamati dan mengagumi keindahan alam hingga pada hal yang paling sepele, karena tidak pernah ada 2 helai rumput yang betul-betul serupa..
Lihatlah dunia ini, Georg, lihat dunia ini ketika engkau belum menjejali dirimu dengan terlalu banyak fisika dan kimia.
Jan Olav memiliki minat khusus pada astronomi. Suatu malam sebelum ia meninggal, diajaknya Georg memandangi langit malam penuh bintang. Ia menunjukkan dan menjelaskan pada Georg yang masih berusia 4 tahun tentang bintang, planet, matahari, dan awal mula alam semesta terbentuk. Tentu saja sulit mengharapkan seorang bocah berusia 4 tahun untuk memahami itu semua, tapi pada intinya Jan Olav hanya ingin putranya menyadari betapa kecilnya arti seorang manusia, dan betapa tak berdayanya kita. Keindahan langit malam bertabur bintang sungguh membuat Jan Olav sedih, karena ia tahu tak lama lagi ia akan berpisah dengan segala sesuatu.
Akan tetapi, impian tentang sesuatu yang tak mungkin, memiliki nama tersendiri. Kita menyebutnya harapan.
Pada bagian akhir surat panjang itu, Jan Olav makin dalam mempertanyakan arti keberadaan seorang manusia. Ia sangat menyesal pernah terlahir ke dunia ini karena begitu cepat ia harus meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan. Tapi jika ia tak pernah terlahir, banyak pula kisah lain yang akan berubah: dengan siapa si Gadis Jeruk akan menikah? Apakah Georg akan pernah terlahir juga ke dunia? Dan masih banyak lagi kemungkinan yang terpikirkan..
Bayangkan kamu berada di awal dongeng ini, suatu waktu miliaran tahun yang lalu ketika segala sesuatu diciptakan. Dan kamu boleh memilih apakah kamu ingin dilahirkan untuk hidup di suatu tempat di planet ini. Kamu tidak tahu kapan kamu akan dilahirkan, tidak juga berapa lama kamu akan hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun. Yang kamu tahu hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir di tempat tertentu di dunia ini, kamu juga harus meninggalkannya lagi suatu hari dan pergi meninggalkan segalanya.
Banyak hal yang dapat direnungkan setelah membaca novel ini. Sadarkah kita pada betapa kecil dan rapuhnya keberadaan manusia yang hanya di suatu planet kecil di dalam salah satu galaksi di antara jumlah galaksi-galaksi yang tak terhingga? Bayangkan betapa peluang kita untuk terlahir ke dunia bisa saja ternihilkan oleh sekian banyak hal seperti bapak atau ibu kita menikah dengan orang lain, hujan deras atau kemacetan yang mungkin mencegah orang tua kita untuk bertemu, sebuah kecelakaan kecil yang menggugurkan kandungan, dan lain sebagainya. Begitu banyak rentetan kejadian yang telah membuat kita ada pada waktu sekarang, maka mengherankan sekali jika ada manusia yang begitu sulit menemukan alas an untuk bersyukur.
Kemudian, jika hidup ini adalah sebuah permainan, akankah kita memilih untuk masuk ke arena sebelum entah setelah berapa lama kita harus keluar untuk selamanya tanpa pernah kembali, ataukah kita sedari awal menolak untuk bermain karena tidak suka dengan aturan mainnya? Apakah kita memilih untuk memandang alam raya sebagai suatu teknologi super canggih hasil dari ribuan perpaduan hukum fisika dan kimia, atau sebuah keajaiban yang tak henti-hentinya membuat kita terpesona bahkan pada level terkecilnya? Tentunya hal itu kembali pada tiap individu untuk memilih; walaupun kita mungkin tidak diberi pilihan untuk terlahir atau tidak dalam dongeng maha besar ini, dan kita ‘terlanjur’ menjadi tokoh di dalamnya, maka tidak ada hal lain yang mesti kita lakukan selain terus hidup hingga di akhir cerita dan memastikan penonton bertepuk tangan setelah tirai ditutup dan lampu dipadamkan bagi kita.

No comments:
Post a Comment