Friday, 1 April 2016

"Kukang" yang Dipanggil "Koala": Tak Kenal Maka Tak Sayang

“Apa contoh binatang pemangsa?”

“SINGAAAAA”
“Binatang apakah ini?” (menunjuk gambar Kukang)
“KOALAAAA”



Aktivitas saya sebagai staff kampanye dan edukasi di salah satu organisasi yang bergerak di bidang pelestarian satwa liar sangatlah menyenangkan karena dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada hampir seluruh lapisan masyarakat. Nah, lapisan favorit saya yang juga paling sering membuat resah adalah anak-anak usia sekolah dasar (SD).

Dibalik keceriaan, kepolosan, dan antusiasme mereka saat diajak belajar dan bermain tentang satwa Indonesia, bukan sekali dua kali saya harus menghela napas panjang. Ironi yang meskipun sudah sering muncul tapi selalu menjadi tamparan keras adalah fakta bahwa anak Indonesia lebih familiar terhadap satwa-satwa yang tidak berasal atau ada di Indonesia, ketimbang satwa asli Indonesia. Contohnya kutipan dialog di atas, yang tak hanya terjadi di level siswa SD saja, tapi pernah juga saya jumpai hingga tingkat SMA.


Generasi muda kita lebih mengenal koala daripada tarsius, lebih tertarik melihat gorilla daripada orangutan, dan lebih mengidolakan singa daripada kucing hutan. Saya pun belum terlalu lama meninggalkan bangku sekolah, tetapi seolah ada mata rantai yang hilang di dunia pendidikan saat ini jika dilihat dari segi pelestarian satwa liar. Saya pun mencoba memposisikan diri hingga mengira-ngira bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan dan diatasi.

Pertama, pada usia yang sangat muda kebanyakan dari kita dikenalkan dengan media-media belajar yang merangsang kognitif seperti poster dan buku bergambar. Coba kita lihat di poster-poster tentang mengenal binatang, saya yakin sebagian besar berisi binatang dari luar negeri seperti jerapah, gorilla, kanguru, atau singa. Pada rentang usia 0 sampai sekitar 4 tahun, anak berkembang pesat dalam hal sesorik. Ini juga berarti bahwa apa yang ia lihat pada usia-usia prasekolah ini sangat menentukan pemahamannya terhadap konsep pengenalan lingkungan secara umum.


Jika dalam usia ini mereka dibuat familiar dengan binatang-binatang yang ada di dalam poster atau buku cerita, maka binatang-binatang itulah yang akan berkesan di dalam memori jangka panjang mereka. Dampaknya, empati terhadap kondisi satwa asli Indonesia pun sulit untuk dibangun. Saya kira sudah saatnya orangtua, guru, dan pihak produsen media visual memberikan porsi lebih untuk menampilkan satwa-satwa asli Indonesia dalam benda-benda di keseharian anak.


Faktor lain dari krisis pengetahuan generasi muda terhadap keragaman hayati Indonesia adalah matinya cerita rakyat. Saya katakan mati, karena memang sudah jarang sekali cerita rakyat digunakan dalam proses pendidikan anak baik di rumah maupun sekolah. Etalase toko buku yang pada era 90an banyak diisi oleh buku-buku cerita rakyat dari setiap provinsi, saat ini telah terkudeta oleh kisah-kisah dongeng dari Eropa dan kartun Jepang yang kemudian merambah ke layar lebar dan menjamur di setiap aksesoris anak yang dijual di pertokoan.


Apa hubungannya dengan satwa? Banyak sekali cerita rakyat asli Indonesia yang melibatkan aneka jenis satwa seperti kancil, burung, ikan, anjing, harimau, dan lain-lain entah sebagai binatang dalam kisah fabel ataupun sebagai personifikasi karakter manusia. Melalui  cerita rakyat, secara tidak langsung kita diperkenalkan tentang beragam jenis satwa dan pemahaman bahwa kehidupan manusia dan satwa tidak terpisahkan.


Ketiga, Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 300.000 jenis satwa liar. Maka mustahil untuk memaksa anak mengenal keseluruhan ratusan ribu spesies satwa liar yang ada di Indonesia, bahkan para ahli dan peneliti pun harus memilih spesialisasinya. Salah satu cara yang menurut saya akan efektif jika dapat dilaksanakan adalah dengan mendedikasikan setiap pekan untuk mengenal satu jenis atau kelompok satwa. Misalnya pekan ini adalah “Pekan Penyu”, dimana anak dikenalkan tentang banyak hal terkait kehidupan penyu. Disusul oleh “Pekan Harimau”, “Pekan Elang”, dan seterusnya. Ini sangat mungkin diterapkan di rumah maupun sekolah.

Singkatnya, saya memandang masalah ini tidak rumit. Sebetulnya hanya ada satu solusi untuk menanggulangi keacuhan generasi muda Indonesia terhadap satwa: buat mereka familiar. Hadirkan satwa Indonesia dalam keseharian mereka, baik melalui bahan ajar di sekolah, tayangan televisi, pernak-pernik, hingga percakapan santai di rumah. Peribahasa “Tak kenal maka tak sayang” mempunyai makna yang sangat dalam. Ayo kenali satwa asli Indonesia, kenalkan pada anak, dan selalu pupuk rasa sayang kita pada keragaman hayati Indonesia!

No comments:

Post a Comment