Beberapa hari yg lalu (16 Maret 2012) aku ikut semacam “belajar bareng” di UB, tentang birdwatching (pengamatan burung liar di alam). Berhubung nggak ada yg bisa & mau diajak, jadilah aku berangkat sendirian. Ke UB. Anak UM. Hahahahaaa..apa sih-
Ternyata yg ngasih materinya anak UM looh, keren kan? Materi pertama ttg birdwatching secara umum sih; apa itu birdwatching, apa aja yg diperlukan, teknik dasar, DOs and DON’Ts, pokoknya semua hal2 mendasar yang kita wajib tau. Materi kedua lanjut lebih spesifik, yaitu ttg raptor. Apakah itu “raptor”? Mengutip dr slide presentasi penyaji:
“Secara makna kata ‘raptor’ secara khusus bisa bermakna “pemburu binatang lain yang ganas” sehingga kata itu menjadi nama identitas kelompok burung ini. Secara definisi raptor adalah burung yang memiliki cakar yang kuat dan tajam yang digunakan untuk menangkap, mengoyak , membunuh mangsanya dan paruh yang melengkung serta berkait tajam untuk menghancurkan mangsa/makanannya. “
Sebagai jenis burung yg dilindungi undang-undang di Indonesia, raptor atau burung pemangsa layak sekali untuk mendapat perhatian khusus. Selain karena jumlah populasinya yg tidak banyak dan dengan tren yg cenderung menurun, raptor juga memiliki peran yg sangat penting dalam ekosistem. Sebagai “top predator”, yaitu hewan pemangsa yg menduduki posisi puncak rantai makanan, kondisi raptor pasti akan mempengaruhi kondisi hewan-hewan yang berada di bawahnya dalam rantai makanan. Misalnya nih, jumlah elang (sebut saja elang ular bido yang banyak memangsa ular) terus berkurang hingga jadi sangat sedikit. Akibatnya, jumlah ular di alam menjadi berlebih. Tidak berhenti disini, jumlah ular yg membludak berarti kebutuhan akan makanan bagi ular pun meningkat. Para katak lah yg akhirnya terancam, jumlah mereka makin menipis karena makin banyak yg dimakan oleh ular. Sementara itu, populasi belalang meledak karena lenyapnya katak2 yg seharusnya mengendalikan jumlah belalang. Apa yg terjadi kalau terjadi ledakan populasi belalang? Mereka jadi hama. Mereka menyerang lahan pertanian, menghabiskan dedaunan di perkebunan, dan menyantap rerumputan liar yg harusnya untuk berbagai dengan hewan lain. Hasil pertanian rusak, petani rugi, dan manusia kekurangan bahan makanan. Hewan2 lain seperti jangkrik, ulat, atau capung yg tidak kebagian rumput pun bisa mati, dan begitu seterusnya akan manjadi lingkaran setan…ngeri kan?? Kebayang nggak dampaknya akan seluas itu?? Itulah pentingnya menjaga keberlangsungan hidup para raptor, karena tanpa mereka kacau sekali alam kita ini jadinya.
Di seluruh dunia, ada 300 jenis raptor yg 90 di antaranya hidup di Asia. 75 jenis raptor tersebar di seluruh Indonesia, dan 32 jenis hidup di pulau Jawa & Bali. Wah, keren banget kan?? Pulau Jawa punya lebih dr 10% dr total jenis raptor dunia! Tapi saying sekali keberadaan mereka tidak sedang baik-baik saja, bahkan beberapa di antaranya sudah masuk kategori “kritis (critically endangered)”. Ironis sekali jika mengingat fakta bahwa salah satu raptor paling terancam keberadaannya di Indonesia adl Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yg notabene adalah lambang negara kita. Sebetulnya dari presentasi para penyaji masih byk yg bisa dipelajari lagi ttg cara identifikasi, berbagai jenis raptor yg umum dijumpai di Jawa, dll. Tapi disini aku cm pengen share ttg keberadaan satwa liar di Indonesia, khususnya raptor. Kenapa mereka bisa terancam punah?
Banyak faktor yg bs mengancam kehidupan satwa liar, yaaa kalo diusut2 nanti hamper semua bakal berujung ke ulah manusia. Pertama, perusakan habitat. Pembangunan perumahan, pembukaan lahan pertanian & penebangan hutan besar2an, pencemaran tanah/air/udara oleh limbah rumah tangga & industri; hal2 seperti itu memang sulit dihindari dg makin banyaknya penduduk bumi. 7 miliar lho! Makannya, ikut program KB dong, secara tdk langsung dg memiliki maksimal 2 anak, kita sudah membantu meringankan beban dunia,hahahahahaaa.. Lalu ada juga perburuan satwa yg sekarang sedang marak. Di pasar burung, jalan2 raya. Maupun di dunia maya sering dijumpai pedagang yg menjual satwa2 yg sebetulnya dilindungi oleh undang-undang Negara. Jika ternyata banyak yg membeli satwa2 tersebut, maka para pedagang pasti akan mengambil lbh byk lagi dari hutan dg cara2 yg kejam (ada video2nya kalo mau lihat,hehe). Dan masih byk lagi yg bisa dicermati dari halaman2 koran, website berita, dan televise. Jangan salah, dengan terus update info tentang kondisi Negara kita terutama lingkungannya, kita sdh turut membantu lho. Paling tidak dengan kita tau, kita bisa memberi tau orang lain. Nah kalo semua sudah tau, semoga masing2 orang bisa berbuat dg lebih bijaksan untuk kebaikan bersama.
No comments:
Post a Comment